RSS
Semua orang hidup dalam tempurung, dan semua menganggap itulah alam semesta.

Jumat, 25 Februari 2011

Janjiku Untuk Ibu


500 mililiter, jumlah yang sedikit jika ukurannya adalah banyaknya asupan air putih yang dikonsumsi tubuh dalam sehari. Karena tubuh memerlukan minimal 1600 ml air putih demi lancarnya system metabolism tubuh. Namun itu menjadi jumlah yang besar, jika ukurannya adalah cairan kotor dalam rongga paru-paru.
Karena air dengan volume sebanyak itulah yang menyebabkan aku kesulitan bernafas akhir-akhir ini. aku baru mengetahuinya ketika dokter menyedot keluar cairan kotor itu. Berwarna kuning kemerahan seperti air seni. Aku terkejut ketika menyadari air yang dikeluarkan dari dalam dadaku mencapai satu setengah botol infus. Mungkin ini juga alasan mengapa ketika tidur aku selalu mengeluarkan banyak keringat.
“ Sebenarnya cairan ini wajar. Seperti kotoran hidung dan telinga, dan bisa menghilang bersama keringat jika volumenya wajar. Namun jika berlebihan cairan ini akan menekan paru-paru,” begitu penjelasan sang dokter.
Setelah pengambilan cairan yang lumayan melelahkan. Karena aku harus menahan sakit jarum yang menembus dada kananku. Akupun terlelap, bersama mimpi-mimpi yang kembali menghiasi.
Today’s dreams are tomorrow’s reality
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Terbangun. Dalam sayunya pandangan mata, kulihat sesosok berkacamata duduk di sisi ranjangku. Aku buru-buru menyegarkan pandangan begitu mengetahui bahwa sosok di sampingku adalah Ust Imanuddin, staff KMI yang pernah menjadi wali kelasku dua kali, 1G dan 5B.
“ Ustadz,” aku menyapa lirih, kucoba untuk bangun dan duduk namun beliau melarangku. Tubuhku lemah katanya.
Setelah beberapa saat menasehatiku, beliau meminta nomor orang tuaku yang bisa dihubungi. Aku sempat tak memberikan, karena tak ingin menjadi beban. Dalam beberapa sakitku sebelumnya, aku memang tak pernah mengabari orang tua, dan semuanya baik-baik saja.
“ Bagaimanapun, orang tuamu masih punya tanggung jawab wan,” nasehat beliau, beliau juga mengatakan bahwa keadaanku sudah amat kritis, sehingga orang tuaku perlu tahu.
“081267232867,” akhirnya kusebutkan juga nomor itu. Dan aku bisa menebak, setelah ini akan terjadi kehebohan besar di rumah.
Aku tak tahu kapan kelopak mata ini tertutup, saat tersadar Ust Imanuddin sudah tak ada di sisiku. Mungkin efek obat tidur yang membuat kantuk terus datang menyerang.
Oh, iya, aku juga ditemanin adik kelas satu daerah. Disini sensitifitas kedaerahan cukup membuat kami akrab. Dia begitu menikmati perannya, makan dengan lahab makanan yang tak kusentuh, dan tentu saja dia senang karena bisa meninggalkan kegiatan rutin pondok. Namanya Rifdhal, beberapa saat aku bercanda dengannya,mencoba melupakan ketakutanku akan kenyataan bahwa ujian akhir kelas enam tinggal dalam hitungan jari.
Al imtihanu fi atabati al baab.
``````````````````````````````````````````````````````````````````````
Suara-suara itu menyadarkanku. Sepertinya aku kenal, tiba-tiba sesosok tubuh memelukku,
“Nak!”
Saat kubuka mataku, wajah ibuku Nampak berlinangan air mata.
“ Ko sampai jadi begini,” masih dalam isaknya.
Aku hanya tersenyum, kulihat kakak perempuanku juga tiba. Ini tengah malam, jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Selang beberapa saat kemudian ibuku melepaskan pelukanku. Benar tebakanku, ibuku pasti langsung kemari begitu mendengar kabar bahwa aku sakit. Kini aku yang tersenyum getir, bersama airmata yang sedikit menetes karena haru.
Untuk bisa sampai disini dalam waktu yang tak sampai satu hari, tentunya ibu sudah melakukan apa saja demi ini semua. Paginya meninggalkan pekerjaannya sebagai Guru SD di sekolah pelosok, berangkat menuju ibukota propinsi Bengkulu yang berjarak 140 Km dari rumah kami, sore langsung terbang menuju Jogjakarta. Langsung menuju Ponorogo meskipun hari sudah gelap, dan tiba disini dini hari begini.
Kuteringat pepatah masa kecilku,
Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang Jalan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sudah seminggu aku belum beranjak dari ranjang rumah sakit ini, dan ibu masih setia menemaniku. Kini sang waktupun memburuku, waktu praktek mengajar tinggal tersisa satu minggu.
Aku tak menyangka keadaanku akan seburuk ini, hasil rontgen terakhir masih belum menunjukkan perbaikan. Kata Pak Dokter berkacamata yang akhirnya kutau bernama Wisnu, memang sudah tak ada lagi cairan yang membahayakan paru-paruku, namun kini paru-paruku tak terkembang sempurna. Ibarat balon, patu-paruku mengempis sehingga dibutuhkan terapi untuk mengembalikannya ke bentuk semula. Rupanya bakteri bernama Mycobacterium Tubercolosis sudah terlalu banyak menghancurkan Aveolus paruku.

Kini aku ibarat robot. Jarum infus masih terpasang di tangan kiri. Sudah beberapa kali jarum infus itu ngambek minta ganti tempat. Kata perawat agar tidak terjadi infeksi. Jadilah tangan kiriku penuh tusukan bekas infus. Dan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, kini dalam dadaku ditanam sebuah selang, yang tersambung dengan tabung seberat 2 kilogram. Dokter wisnu menjelaskan, bahwa itu semua untuk membantu pengembangan paru-paruku yang sudah tak bisa dilakukan secara manual. Dengan keadaan seperti ini, aku tak bisa bergerak banyak.
Dengan berhati-hati tangan kananku mencoba mengangkat buku, mencoba membaca buku Masail Fiqhiyyah yang konon menjadi momok dalam ujian lisan kelas 6. Baru beberapa menit, tanganku sudah gemetaran. Aku hanya bisa menitikkan air mata.
“Sudahlah nak, yang penting kamu sehat dulu.” Ibuku mencoba menenangkanku yang terisak. Aku menjadi bertambah sedih ketika ingat perkataan Ust Masyhudi dalam pengarahan praktek mengajar . Dalam pengarahannya, Ust Mashadi selaku direktur KMI menekankan bahwa praktek mengajar amat penting. Tidak ada alasan bagi siapapun yang tidak mengikutinya. Hukumannya adalah skorsing satu tahun ajaran.
Pikiranku jauh melayang. Bagaimana jika aku harus mengulang kelas 6 tahun depan. Bagaimana aku bersikap nanti bila melihat teman-teman seangkatanku, Hilmi, Fathan, Aziz, menjadi pengajarku. Bagaimana pula bila Hilmi memanggilku karena aku telat mengajar pelajaran sore, atau Fathan menghukumku karena aku absen saat acara bahasa. Aku tidak habis pikir, bagaimana kebersamaan selama ini jika harus berakhir demikian. Namun yang terpenting, akankah usaha kerasku selama ini berakhir seperti itu. Tangisku semakin membesar. Kini air mata ibupun jatuh.
“Sabar ya nak!” Kupaksakan menghentikan tetes air mata ini agar ibukupun berhenti menangis.
Aku mulai pesimistis dengan keadaanku. Ujian lisan tinggal beberapa hari lagi, dan aku belum melakukan persiapan apapun. Semenjak Murojaah terakhir aku belum belajar serius karena demam yang ternyata gejala penyakit ini. Kalaupun bisa sembuh dan mengikuti ujian, nampaknya misiku untuk menjadi yang pertama di Yudisium kelas 6 takkan kesampaian. Aku mencoba untuk mulai menghadapi semua kemungkinan.
Man purposes, but God disposes
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ini hari kesebelas tabung itu menjadi bagian tubuhku. Badanku sudah terserang gatal-gatal. Namun hasil rontgen ke 5 dalam dua minggu terakhir ini belum menunjukkan hasil yang membuat dokter mengizinkan kepulanganku.
Aku ibarat anak kecil lagi. Makan minum disuapin, bahkan buang airpun ibuku dengan sabar membantuku.
Malam itu sebuah kejadian benar-benar membuatku terenyuh,
Seperti biasa ibu tidur dengan menaruh kepalanya pada pinggir ranjang. Karena terlalu lama mungkin, semut-semut pencari zat manis akhirnya berhasil menemukan obyek makanan baru berupa lukaku, dan merayap keselang tabung, kemudian mulai menggerogoti lubang tempat ditanamnya selang. Akupun mengerang kesakitan, ibu terbangun dan kemudian mengambil kapas untuk mengusir semut-semut kecil itu. Ketika ibuku mulai tertidur, semut semut itu datang lagi. Akupun kembali mengerang kesakitan, ibu kembali terjaga dan kembali mengusir semut-semut nakal itu. Begitulah sepanjang malam.
Allahumma Ighfir walidayya, Ya Allah engkau memang selalu mengirimkan malaikat yang selalu melindungiku.
Semenjak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak boleh mati sebelum melihat Ibuku tersenyum bangga kepadaku. Dan aku berjanji akan memberikan permata terindah untuk pelipur hatinya. Dan akan memberinya malaikat terbaik yang akan selalu membuatnya tersenyum.

Kasih ibu, kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya member, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Rabu, 19 Januari 2011

Just Go On!



I know,
this way maybe a rugged path,
full of difficulties and barriers,
just go on sister! go on!

I know,
this way may be so odd,
full of madness, and it is weird
but just go on sister! go on!

i know
in this way, there are something
hard to listen
hard to see
hard to feel
but just go on sister! go on!

I know
in this way,there are some people
unreasonable, irrational,
and self centered
but just go on sister! go on!

It is never about others,
it is always about you
and what is within

(dedicated to my sister, Rubba akhin lam talidhu walidatun)

Sabtu, 11 Desember 2010

Untuk Sahabat


Ini tentang sahabat, dan mimpinya yang menjadi kenyataan. Aku begitu tergelitik untuk menulis ini karena aku merasa ada pelajaran yang bisa kita petik dari cerita yang kutuliskan.

Namanya Farid, sebenarnya itu adalah nama pemberian dari Ustadnyanya saat di pondok, aku lebih dahulu mengenalnya sebagai Fesa, nama aslinya Nofesa. Bukannya tak ada yang menarik dari dirinya sehingga tak kujelaskan kepribadiannya dengan panjang lebar, namun ia hanyalah pribadi yang selalu tenang dalam kesahajaannya, rojulun ma’rufun bikhusu’ihi. Dan justru itu yang membuatku selalu nyaman bila bersamanya, selain senyuman tipis yang tak pernah lekang terkembang dari raut wajahnya.

Ia berasal dari Ipuh, kota kecil di provinsi Bengkulu ( aku selalu mengherankan sebagian orang yang masih bertanya kepadaku dimana letak Bengkulu, padahal Bengkulu sudah menjadi provinsi sejak 18 november 1968), tak jauh dari rumahku. Aku mengenalnya karena ayah kami satu profesi sesama pegawai negri kecil yang harus merantau jauh dari daerah asal.

Madinah al Munawwaroh, nama kota itu. Kota yang kutahu selalu diimpikan oleh Fesa, aku mengetahuinya dari obrolan-obrolan kami. Dari sanapun aku menangkap bahwa mimpinya telah menjadi sebuah obsesi dan bahkan menjadi bagian dari hidupnya. Sepertinya hari-harinya selalu dipenuhi dengan bayang-bayang kota tercinta itu. Dan kutahu malam-malamnya sering dihiasi dengan bayangan abstrak kota itu, karena hanya terlukis dalam alam mimpi. Karena itu pula aku yakin, bahwa suatu saat dia memang akan menginjakkan kaki di kota itu, sebagai pelajar Universitas Ummul Quro, seperti harapannya.

Namun aku juga tahu (sebelum kejadian yang membuatku menulis ini), jalannya menuju impiannya seperti mustahil, anak itu hanyalah lulusan sebuah pondok kecil di pinggiran jawa tengah dengan kemampuan bahasa arab yang minim. Yang aku tahu, orang-orang yang termasuk kategori pandai di pondokkupun (pondok yang diakui banyak universitas di timur tengah), beruntung bila dapat lolos seleksi. Apalagi untuk mengikuti ujian seleksi langsung (muqobalah) harus berangkat langsung ke Madinah, tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan Farid termasuk dalam golongan orang yang tidak mampu untuk itu . Meskipun begitu aku selalu katakan kepadanya: “Percayalah! Quranmu akan menghantarkanmu kesana!”.

Dahulu, perkataanku itu hanyalah pemanis bibir, untuk membuatnya tetap menjaga harapannya.

Cerita ini bermula dari chatting ku dengan salah seorang temanku yang masih tinggal di pondok. Ya, seperti biasa, malam-malam menanti visaku banyak kuhabiskan dengan hanya chatting . Dan syukurnya, chattingku malam itu bermanfaat. Dari Chatting itu aku mendapatkan informasi bahwasanya hari-hari itu sedang berlangsung acara Dauroh (seminar) oleh para Syeikh dari madinah yang akan diakhiri dengan ujian seleksi ke Madinah. Wah, kesempatan emas, pikirku. Mungkin ini adalah jalan Farid untuk menggapai mimpinya.

Malam itu juga aku langsung menghubunginya, mengutarakan rencanaku. Paginya, dengan sepeda motor yang bisa dibilang butut dia menghampiriku di kosan temanku di sekitar kawasan UIN Sunan Kalijaga Jogja, untuk berangkat menuju Ponorogo. Hmph, bagiku ini terlihat lucu. Kami belum perrnah ke Ponorogo dengan mengunakan sepeda motor, meskipun aku pernah 5 tahun di Ponorogo. Tapi dari wajah Farid aku melihat bahwa keinginannya tak bisa dibendung. Well, we gotta go!

Jalanan berkelok-kelok Wonogiri dengan jurang di satu sisi dan tebing tinggi di sisi lainnya kami libas dengan kecepatan tinggi, karena kami harus tiba sebelum pendaftaran ditutup sore ini. Yang membuatku tambah terenyuh dan salut terhadap lelaki ini adalah, bahwa dia tahu kapan saat untuk berhenti karena kewajiban sebagai muslim, sholat lima waktu. Ketika adzan Dzuhur berkumandang,

“ Mas, sholat dulu ya!”, subhanallah, semoga sholatnya selalu menjaganya.

Bukan tanpa halangan, kami harus bertanya ke beberapa orang untuk memastikan kami di jalan yang benar menuju Ponorogo. Sempat beberapa kali berputar-putar di daerah yang sama, dan yang membuatku menahan nafas, kami hampir terperosok ke jurang karena tak mengenal jalan dan melaju dengan kecepatan tinggi. Saat beristirahat sejenak setelah hampir masuk jurang aku berkata,

“ Allah tahu niat dan tujuanmu rid, mungkin itu yang menyelamatkan kita”

“ Amin mas, semoga saja begitu” jawabnya.

Tiba di kota Ponorogo, kami langsung menuju Gontor 2, tempat dimana dauroh diadakan. Setelah sebelumnya shloat Ashar, kami langsung menuju ke kantor panitia. Kali ini biar aku yang urus, kataku pada Farid.

“ Dari mana mas?” aku bersyukur ustadz yang satu ini tak mengenaliku, aku kan alumni tahun lalu, batinku.

“ Dari Bengkulu Ustadz”, jawabku cepat, aku tahu jawaban ini bisa sedikit membantu. Secara aku tahu sedikit tentang hal-hal teknis semacam ini.

“ Sebenarnya untuk yang dari luar sudah ditutup mas kemarin,” keterangan ini hampir membuat semuanya sia-sia,

“ Tapi berhubung antum datang dari jauh, mungkin kita bisa konsultasikan ke syeikhnya, jika beliau bersedia, kami persilakan mengikuti ujian. Namun jika tidak, kami tidak bisa membantu.” Jelas ustadz itu lebih lanjut.

Pasti bisa lagi kali ini, batinku. Semenjak perjalanan tadi seolah ada sesuatu yang membuatku yakin jika semua rintangan pasti kan terselesaikan. Karena aku sudah menyaksikan sendiri betapa semuanya hanyalah mimpi kemarin malam, dan kini kita sudah separuh perjalanan.

“ Persyaratannya sudah lengkap mas?” Alamak, pertanyaan ini menyadarkanku, bahwa ada satu persyaratan penting yang belum kami punya,

“ Tazkiyah (semacam surat rekomendasi ) belum punya ustadz,” selorohku.

“ Ok, begini saja, kita akan lobi syeikhnya untuk menguji antum. Tetapi antum urus dulu persyaratan yang belum lengkap.” Hmm, baiklah.

“Rid, sekarang kita ke warnet, tadi aku sudah suruh temanku mengirim contoh Tazkiyah”, come on rid, semangat, jangan biarkan hal-hal teknis menghalangi tujuan muliamu.

“Nanti minta ke siapa mas tazkiyahnya?,” tanya Farid.

“ Ke ustadz senior aja, ada beberapa yang alumni Madinah, Ust Dihyah di ISID, terus Ust Iskarom di Al Azhar.” Jawabku menenangkannya.

Beberapa trouble kembali hadir merintangi, dari kesulitan ngeprint Tazkiyah (maklum Ponorogo), Ust Dihyah yang tak ada di rumah (sempat ketar-ketir yang ini, karena selain beliau aku kurang tahu siapa lagi alumni Madinah yang masih mengajar di Gontor, dan lagi beliau termasuk orang ternama yang pasti Tazkiyahnya akan dipertimabangkan), hingga Tazkiyahnya yang kata Ust Iskarom berbahasa tidak jelas (gimana sih nurtriono ini (aku minta contoh surat dari nurtriono, temanku yang juga akan ke Madinah)), untungnya, Ust Iskarom berbaik hati membuatkan Tazkiyah untuk Farid dengan tulisan tangan beliau.

Tepat sebelum adzan maghrib kami menyerahkan persyaratan. Alhamdulillah, tugasku selesai, setelah maghrib Farid yang harus ujian, kali ini aku tak bisa bantu.

Itulah kisah perjalanan kami, sudah sangat lama. Namun ingatanku kembali segar ketika aku melihat status temanku di facebook bahwa ia lulus ke Madinah. Seketika itu juga aku ingat Farid, akupun meminta situs yang mengabarkan pengumuman kelulusan. Ketika kudapati nama Farid Novesa, kusadari kala itu dengan sebenar-benarnya bahwa Allah memang Maha besar. Ia lulus. Betapa mimpi itu kini bukanlah sekedar bunga tidur. Alhamdulillahirabbilalamin.

Beberapa hari yang lalu aku chat dengan Farid, dia kini sudah di Madinah, kota tempat labuhan semua mimpinya. Dia mengajakku untuk kesana, dia cerita betapa damainya sholat di masjid Nabawi. Hatiku tersentuh mendengar semua itu. Nikmati saja kedamaian itu kawan, semoga hawa madinah membuat senyummu semakin bersahaja. Biarlah aku disini, berjuang dengan caraku sendiri. Biar kesemrawutan Kairo mendidikku untuk menjadi lelaki kuat, biar problematika membuatku beranjak dari sekedar anak manja. Seperti apa yang dulu pernah kita simpulkan dari perbedaan kita: Tujuan kita sama, meski dengan jalan berbeda.

Missing you, if you are here.

Truly yours