RSS
Semua orang hidup dalam tempurung, dan semua menganggap itulah alam semesta.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Satu Catatan Kecil untuk Cerpen Dua Calon Penulis Besar

Pareidolia

Membahas karya Umar adalah berbicara tentang makna. Berbeda dengan penulis picisan macam saya, Umar sudah beranjak jauh dari karya romansa cengeng, dan lebih tertarik mengangkat tema-tema yang membawa sastra sebagai sarana olah masyarakat, semacam realisme sosialis.

Dalam karya-karya penulis, entah disengaja atau tidak kita dapat melihat obsesi memampatkan cerita dengan perkara-perkara pintar: perbincangan tentang teori-teori psikologi, analisa penyakit-penyakit kejiwaan, dlsb. Dalam cerpen kali ini, penulis ingin berbicara tentang pareidolia -fenomena psikologis yang melibatkan stimulus samar-samar dan acak (seringkali sebuah gambar atau suara) yang dianggap penting-. Pekerjaan semacam ini, adalah upaya yang sangat berpeluh-peluh jika dilakukan orang yang tidak ahli bercerita.

Kemampuan cerdas ini dibantu dengan kecenderungan penulis yang memang telah banyak bergelut dengan Freud, C.G Jung, psikoanalisa dan masalah kejiwaan lain –harap tidak disalah artikan, haha-

Kedewasaan penulis nampak dalam tema apik yang dia bawakan, potret dinamika pengusutan korupsi di tanah air. Umar beimajinasi tentang Bupati Malang –malangnya dia berasal dari kota itu- yang terbukti korup lewat satu praktik psikoanalisa.

Penulis nampak hati-hati menuliskan cerita ini, terbukti dari tidak adanya muskil kecuali beberapa detil kecil cerita yang sedikit tak berkenan dengan logika. Tapi secara keseluruhan, kita tak bisa mengharapkan lebih dari contoh tulisan yang sangat matang untuk ukuran kita-kita ini.

Tentang Sukma, Potongan Awan, dan Gadis Bernama Nabeela

Membaca cerpen Fitra ini mengingatkan saya dengan senandung Melayu. Kata-katanya penuh puitika khas lagu Melayu yang penuh perasaan. Kalimat-kalimatnya pun menyeret saya pada dunia di mana  semuanya adalah irama yang mendayu-dayu. Mari kita lihat kalimat-kalimat berikut: aku mencintai malam lantaran malu pada terang. Lantaran ketakutanku pada siang, yang pernah menangkap basah rasa yang dalam… Amboi! Saya yakin ini muncul dari garapan dan pertimbangan yang serius, jika tidak, artinya kita menemukan bakat sastra yang luar biasa pada diri penulisnya.

Kekuatan kata-kata penulis juga terejewantah pada sisi lainnya, kepiawaian meramu majas. Lihatlah bagaimana Fitra menggambarkan suasana pagi di tepi Laut Mediterania dengan kanvas yang tertimpa cairan cat biru: Kala itu, di paginya laut Mediterania, langit dan pantai seperti ketumpahan cat cair biru…, lihat pula bagaimana dia mengungkapkan riuhnya suara ombak sebagai sesuatu yang rusuh : dengarkan pula rusuhnya gulungan ombak yang berkejaran.

Penulis sendiri mengatakan bahwa kemahiran membuat perbandingan macam itu diperoleh dari polah unik sang ponakan, Tania. “Barangkali karena masih kecil, kali ya!” jelasnya diakhiri dengan senyum. Menurut saya, ya, penulis sangat perlu memelihara keluguan anak kecil melihat hal-ihwal -segala sesuatu yang belum selesai didefinisikan dan perlu selalu ditanyakan-.

Jika ada ihwal yang menjadi catatan merah, mungkin hanya karena penulis terlalu masyuk dengan pemilihan kata-kata, hingga secara tak sengaja melewatkan unsur-unsur lain yang perlu dimatangkan, terutama alur cerita.

Terakhir, saya berharap upaya-upaya kecil macam ini menjadi pemantik bara semangat dalam rangkaian besar proses belajar menulis kita.



Jumat, 17 Januari 2014

Diam

Coelho bilang, bagi orang-orang yang tidak takut berada dalam kesepianyang menyingkap misteri-misteri,  hal-ihwal akan nampak (reveals) dengan rupa yang berbeda.

Saya mendengarnya pertama kali dari guru menulis, lebih dari setahun lalu, dalam sela-sela komentarnya terhadap cerpen milik saya. Ia bilang dengan kening berkerut. Nampaknya, kegusaran itu bukan sekedar basa-basi pelengkap pelajaran menulis sore itu.

“Sekarang ini, ruang komentar dalam dunia maya sudah menjadi ajang unjuk gigi. Tapi isi kepala tak pernah bohong. Orang-orang bodoh hanya akan mendedah ketololannya lewat komentar-komentar tak bermutu.”

Redaksi di atas milik saya, saya lupa bagaimana tepatnya. Intinya, beliau mencemaskan perkembangan budaya masyarakat Indonesia yang semakin vokal berkomentar. Sayangnya, sikap ini tanpa dibarengi tanggungjawab intelektual dan moral.

Barangkali spirit demokrasi turut membuka keran kecenderungan baru ini. Dengan kebebasan berekspresi yang sangat dijunjung tinggi, setiap orang dewasa ini dapat bertindak apa saja, tanpa perlu cemas ada peluru petrus yang tiba-tiba nyasar di kepala. Sekarang, semua orang dapat berpolah seakan-akan ahli, namun tanpa berpikir panjang akan konsekuensi.

Saya kemudian turut terjangkit kekhawatiran itu. Apa pasal? Di tempat saya hidup, Masisir mulai semakin cerewet. Setiap kejadian tak lepas dari tanggapan. Masalahnya, tidak semua respon disampaikan dengan bahasa akademisi yang menuntut renungan dan etika. Banyak kalimat-kalimat tak pantas mengotori kolom-kolom komentar.

Saya ingin mengatakan, bahwa dunia maya adalah pertaruhan integritas. Di saat karya-karya Masisir belum mampu menunjukkan potensi komunitas ini, orang-orang luar tetap dapat menilai dinamika kehidupan sosial-intelektual kita melalui dunia maya. Mereka tidak hanya mengendapkan pemikiran Masisir dalam menilai benar-salah suatu perkara, tetapi juga mencerna sikap dan budaya intelektual kita dalam berbeda pandangan, debat, dan cara menghadapi masalah.

Saya khawatir penyakit ini semakin serius. Baru-baru ini marak lagi akun-akun anonim yang mengumbar bola liar tentang isu-isu sensitif. Bukan benar salah kultwitnya yang utama, tetapi bagi saya, akun-akun yang tak bisa diidentifikasi adalah bentuk ketidakbertanggungjawaban. Melihat fenomena ini, saya takut nalar kita hanya mampu mencontek sikap-sikap buruk dari dinamika Indonesia, sementara di saat bersamaan, gagal memberi nilai positif pada diri sendiri.

Belum lama ini, di tengah sukarnya ujian, perdebatan kembali marak. Ada seorang kawan mencetuskan ide bagus. Fahmi Hasan, kawan itu, meminta saya memasang foto profil seragam, orang dengan telunjuk di bibir. Intinya pesan kepada siapa saja untuk lebih banyak diam daripada berkomentar yang tak dapat dipertanggungjawabkan.

Rupanya, masalah kita ini juga pelik di tanah air. Dalam pidato kebudayaan di DKJ beberapa waktu lalu, seorang kontestan, Karlina Supelli, mengusulkan satu solusi:

“Ruang-ruang publik sudah terlalu gaduh dengan komentar siapa saja yang bisa menjadi pakar apa saja di segala persoalan. Tugas kebudayaan para budayawan dan intelektual adalah menghidupkan kembali, pada aras praktek, perbedaan yang ketat antara komentar acak dan pemikiran yang berakar dari perenungan mendalam.”

Lebih jauh, budayawan Emha Ainun Najib ternyata sudah melek akan masalah ini. Karena itu dia seperti ditelan bumi, jarang sekali muncul di media. Dalam salah satu wawancara ia berkata:

“Tapi bahwa saya jarang bicara di media, itu karena saya melihat sebagian besar media saat ini sudah sangat tidak mengasyikkan. Terlebih di zaman yang salah satunya melihat ketenaran sebagai kebenaran, media berkontribusi besar menjadikan kebodohan menjadi milik masyarakat. Dan jujur saja, kenyataan yang terjadi pada media ini menjadikan saya tidak bahagia dan terangsang untuk kembali menulis.”

Barangkali kesadaran mental macam ini pula yang membuat saya semakin jarang menulis. Tetapi sepertinya hal ini tepat. Sekaranglah saatnya, orang-orang yang “benar-benar” berpendidikan dan berbudaya perlu memberi contoh bersikap cerdas. Meski sikap itu adalah diam.

Kafa bi al-mar’I kadziban an yuhadditsa bi kulli ma sami’a

                                                                                                         

Rabu, 30 Oktober 2013

Identitas

Mahabharata menuturkan satu cerita tragis tapi tak epik. Karna, seorang yang tak punya identitas jelas, mati dalam perang tanding melawan seorang Ksatria Pandawa, Arjuna. Tragis karena tepat sebelum tewas, Karna tahu ia akan kalah. Bukan epik karena kematian Karna tak diratapi kasta mana pun.

Karna adalah bayi yang tak tahu datang dari mana, hanyut di sungai dalam peti dengan hanya berselimut kain. Tapi Begawan Bargawa merasa Karna telah menipunya ketika berguru kepadanya. Karna dianggap telah berdusta karena tak mengaku bagian dari kasta Ksatria -yang oleh brahmana satu ini dianggap perlu dimusnahkan. Walhasil, ia menolak memberikan secara utuh ajian sakti yang jika diberikan dapat menyelamatkan nyawa Karna.

Cerita di atas mengingatkan saya, bahwa identitas dapat menjadi antagonis. Suatu identitas, pada suatu ketika dapat melampaui fungsi defensifnya, sebagai pembentuk kesadaran untuk bekerja sama. Ia dapat menjelma menjadi sangat beringas, bahkan kejam. Karna adalah contoh fiktif, tapi realitanya dapat ditemukan di mana-mana.

Ihwal ini terkadang membuat saya khawatir. Terutama karena di era globalisasi ini, di saat banyak identitas tergoncang dan berevolusi, segelintir orang masih saja mencoba mengangkuhkan “kita.” Kita adalah definisi yang berbeda dari “yang lain.” Kita tidak menerima yang lain. Yang lain harus dilebur, dan jika tidak, harus diringkus. ”Tiap kesadaran,” kata Hegel, ”memburu kematian yang-lain.”

Saya khawatir karena saya adalah satu dari sedikit orang seperti Karna. Saya adalah orang Jawa yang tidak dianggap Jawa karena lahir di Sumatra dan tidak bisa Kromo Inggil. Tapi orang-orang kampung pun menganggap saya orang asing karena saya besar di perantauan. Lagipula, logat saya terdengar beda.

Barangkali perasaan saya ini sesuai dengan yang dirasakan Putu Wijaya. Putu lahir di Bali, tapi ia kuliah di Yogya dan hidup di Jakarta. “Dibandingkan dengan orang-orang Bali lain,” kata Putu, “Saya seperti sebuah disket yang sudah terkontaminasi dan salah format. Bentuk saya sudah acak-acakan.”

Dalam cerpennya, Bali, Putu mengutarakan kegelisahannya tentang identitas. “Bali adalah sebuah konsep. Tidak bali juga sebuah konsep. Dan konsep-konsep itu berubah. Mungkin karena zamannya berubah, atau karena apresiasi kita yang bergerak?” Ya, identitas tentang siapa kita adalah produk budaya. Dan benda-benda budaya, kata Sapardi Djoko Damono, bisa saja tidak –atau belum- selesai dibangun.


Orang Bali sekarang mungkin tidak lagi bisa menari, tidak bisa menabuh, tidak bisa melukis atau membuat patung. Orang Jawa sekarang mungkin sudah tidak pakai blangkon dan tidak bisa kromo inggil. Orang Betawi barangkali sudah tak lagi mengarak ondel-ondel. Bagi saya itu semua tak masalah. Yang jadi masalah adalah apabila di masa ketika identitas-identitas berevolusi, pemikiran segelintir orang masih terpaku pada mengangkuhkan identitas-identitas primordial.

Selasa, 01 Oktober 2013

Selera Humor Orang Indonesia


Dalam lawak, tidak lucu jika lakon terbahak-bahak dalam pentas. Lebih tak lucu bila pemeran marah-marah di atas panggung. Sialnya, Indonesia adalah dagelan gagal tersebut.

“Negara ini gila!” komentar Mahfudz MD mengenai Indonesia di salah satu acara televisi. Mantan ketua MK yang digadang-gadangkan menjadi presiden 2014 ini terutama mengeluhkan sistem birokrasi dan ketumpulan hukum menyikapi kongkalikong kepentingan para priyayi.

Jika Pak Mahfudz mendasari pendapatnya atas analisa, dan membawa serta solusi konkret, lain lagi dengan kebanyakan masyarakat awam. Orang-orang kalangan menengah ke bawah (secara intelektual) sudah terjangkit virus kehilangan kepercayaan terhadap negara mereka sendiri.

Sebenarnya sikap tak acuh orang Indonesia dapat dimengerti. Selain masalah kenegaraan yang tak pernah usai mendera, rakyat dibuat jenuh dengan polah para politisi. Setiap hari rakyat disuguhi debat kusir mereka yang mengatasnamakan para wakil. Buruknya, kebanyakan politisi tak mengerti tata cara diskusi dan debat yang baik dan benar. Akibatnya, silat lidah hanya digunakan untuk membela kepentingan golongan. Bukan kepentingan rakyat, apalagi kebenaran. Kejenuhan terhadap sikap politisi tersebut membuat rakyat tak acuh lagi terhadap kehidupan politik.

Sikap tak acuh rakyat dikuatkan hasil survei. Dari jejak pendapat yang dilakukan IPI (Indikator Survei Indonesia), 67 persen responden menyatakan tidak tertarik dengan hal yang berkaitan dengan politik. Survei ini melibatkan 2290 responden (sumber merdeka.com).

Apatisme macam ini juga dapat ditelisik dari percakapan masyarakat tingkat grassroot maupun di forum-forum dunia maya. Dalam obrolan ringan warung kopi misalnya, rakyat sudah tak segan lagi sinis terhadap nasib bangsa sendiri. Di forum-forum internet, masyarakat justru berlomba-lomba menertawai kemalangan mereka.

Barangkali, asal mulanya pesimisme negatif itu adalah guyonan satire. Masyarakat lelah menghadapi pelbagai cobaan yang datang tak henti terhadap negri ini. Bencana demi bencana melanda, KKN menggurita, utang negara membengkak, hukum tak mempan menebang orang besar, dan lain sebagainya. Semua kenyataan itu sudah cukup untuk menggetarkan ketahanan mental masyarakat. Akhirnya, saking bosannya dengan musibah, rakyat memilih menghibur diri dengan menertawakan kesengsaraan.

Tapi, entah karena kurang terdidiknya masyarakat Indonesia, atau karena keluguan psikologis yang sudah tertanam kuat -negri ini dijajah lebih dari 350 tahun- humor itu malah jadi hiburan. Hiburan menjadi pentas. Pentas menjadi lomba. Dan anehnya, lomba mengolok-olok diri sendiri malah digandrungi.

Masyarakat Indonesia lupa (atau benar-benar tidak tahu?) bahwa tujuan utama lelucon satire bukan untuk mengocok perut, namun untuk membangunkan kesadaran instingtif yang kadang tak bisa dibangkitkan dengan ajakan-ajakan serius. Kita melalaikan fungsi membangun dari guyonan cerdas itu. Satir adalah seni melucu kaum intelek, sayangnya, di tangan masyarakat Indonesia, ia menjadi lawakan murahan.

Di saat masyarakat luas menikmati parade mengejek diri sendiri, kita punya presiden dengan selera humor mengkhawatirkan. Tak seperti rakyat yang terjebak dalam sisi lucu satire, presiden malah terjangkit penyakit sulit ketawa. Saat segelintir demonstran menyindir kelambanan Pak SBY dengan menuntun seekor kerbau, dia justru marah-marah tak karuan. Yang aneh, perilaku sang presiden selanjutnya tetap mengerbau. Malas, lamban dan tak tegas. Saya hampir lupa kalau beliau adalah purnawirawan militer. Jika kerbau berleha-leha dengan memamah rumput sembari menikmati lenguhan sumbangnya sendiri, bapak yang satu ini terlalu banyak bersantai mendengarkan lagu ciptaan pribadi. Yang lebih menggelitik, SBY berhasil menciptakan empat album selama periode pemerintahannya. Produktifitas ini bahkan melangkahi karya penyanyi profesional dalam tempo yang sama.

Hemat saya, dua sikap di atas adalah sikap keliru dalam menyikapi masalah. Kita tak boleh terlalu serius menanggapi ironi, justru dengan menyediakan selera tertawa kita tergelitik, kita dapat dengan arif menerima pesan yang dimaksud. Ironi, kata Gunawan Muhammad, membuka pintu kepada kearifan. Atau, seperti kata Anatole France, ironi adalah keriangan reflektif dan sukacita yang bijaksana.

Jangan pula kita tertawa terpingkal-pingkal menanggapi ironi. Ia bukan pentas lawak yang bertujuan mengocok perut, namun, seperti saya sebutkan di atas, dalam rangka membangunkan kesadaran alami yang tertidur. Guru mengaji saya pernah bilang, terlalu banyak tertawa akan mematikan perasaan. Saya pikir betul juga. Secara kasar saja, tertawa berlebihan membuat perut sakit, mata terpejam, dan pendengaran berkurang. Dalam keadaan demikian, kita akan kehilangan kontrol terhadap apapun di sekeliling.


Barangkali, bangsa Indonesia belum cukup berbudaya untuk menyikapi ihwal-ihwal cerdas. Tapi sebenarnya, masalahnya sederhana. Kita hanya perlu selera humor yang lebih baik.

Rabu, 11 September 2013

Apa yang Ditulis dalam Cerpen

Awalnya saya tidak tahu. Saya pada mulanya lebih menggemari tulisan-tulisan motivasi daripada cerita pendek. Tulisan-tulisan penggugah semangat tersebut, bagi saya, lebih mudah dicerna tanpa perlu bertele-tele, mirip fast food, cepat, enak dan simpel. Berbeda dengan cerpen yang ketika itu saya anggap serupa dengan transmigrasinya Suharto, pemaksaan orang-orang pindah ke tempat baru yang tak dikenal. Tentu saja, pada mulanya, orang-orang akan lebih banyak mengeluh dan melongo di tempat baru. Percis, saya banyak mengeluh dan melongo di awal-awal membaca cerpen. 

Cerpen membawa setting yang asing dan aneh-aneh, pelataran tempat-tempat kuno –bangsa Viking, Prusia, atau bahkan Jawa Kuno-, detail-detail daerah asing –gang-gang di Tokyo, tembok Berlin, dll-, atau gambaran surealis yang benar-benar di luar nalar normal. Saya lebih banyak pusing. Itulah zaman jahiliyah dalam kehidupan menulis saya.

Mengapa saya menamakan zaman jahiliyah? Karena periode itu adalah masa ketika saya bisa menulis lebih banyak daripada membaca. Guru saya bilang hanya penulis amatir yang melakukan kebodohan itu. Saya akui saya dahulu memang sangat bodoh –bahkan sampai sekarang- dan amatir. Salah satu dalil keamatiran saya adalah keberanian saya menulis dan memaksa menerbitkan buku sebelum pernah sekalipun belajar menulis. Sampai sekarang saya masih sering tersenyum ngenes mengingat kesombongan masa muda yang buruk itu (pinjam diksi dan izin menggubah ya Mas Duta).

Tapi saya tak menyesal, karena keluguan anak muda itulah yang mengantarkan kepada jalan hidup kepenulisan yang luar biasa. Saya jadi tahu sekelumit tentang kenakalan penerbit, seabrek suka (baca: duka) dan duka penulis pemula, dan bertemu dengan seorang guru. Pengalaman-pengalaman tersebut yang pada akhirnya sedikit membuat saya mengerti apa yang mesti dilakukan jika ingin menjadi penulis. Sebentar ya, saya kangen kembali menjadi Mariowan Teguh Saputra; “berjalanlah terus walau pelan dan tak tahu arah, karena Tuhan pasti menuntun langkah kita.”

Ok, karena saya sudah berjalan –setidaknya beberapa langkah-. Mari kita kembali pada tema di atas.

Meski kemudian banyak membaca cerpen dan belajar mencintai, saya tetap tak tahu bagaimana menulis cerpen. Teorinya sih mudah, Pak Guru bilang awalnya harus boom (pembukaan mengejutkan), alur ceritanya naik turun, dan penutupannya juga mengagetkan. Tapi, pada praktiknya, menyelaraskan ide awal (baik berupa pesan maupun sekedar imajinasi) dengan remeh temeh penceritaan macam penggambaran karakter atau detail latar adalah pekerjaan paling berat. Dulu saya berpikir menulis itu pekerjaan paling mudah, sekarang saya berpikir menulis adalah perjalanan menuju Roma, panjang namun selalu ada jalur alternative. Saya katakan demikian karena saya tak mau termasuk golongan orang-orang yang berkata: “life is easy, writing is hard,” ini pernyataan yang salah.

Masalah saya terutama adalah penguasaan setting. Bagaimana mungkin saya bercerita tentang Paris, Eiffel, Camp Elysees, sementara saya tak pernah punya uang untuk berpelancong ke sana. Saya bukan anggota DPR yang untuk jalan-jalan cuma perlu mengajuka proposal studi banding. Apalagi terkadang, musim hujan membuat kebun karet Bapak tak bisa disadap. Kalau sudah begitu, beli buku saja susah. Dari mana saya bisa tahu nama jalan-jalan di dekat sungai Rhode?

Akhirnya, karena tak jua bisa menulis saya memutuskan menaati Pak Guru, “sekarang, baca saja cerpen-cerpen semuanya!” Saya sempat bertanya-tanya pada diri sendiri saat menerima petuah itu, “kapan saya menulisnya kalau harus membaca semuanya!” Belakangan saya berubah pikiran, santai sajalah, tak perlu terburu-buru, setiap orang punya perjalanan hidup dan karier yang berbeda-beda, Plotinus si pendiri neoplatonis saja baru belajar di umur 27 tahun.

Nah, bacaan-bacaan itu lama kelamaan membuat saya melek (saya membaca baik cerpen-cerpen maupun curcol-curcol penulis macam ini). Saya jadi tahu kalau dalam menulis cerpennya, Sungging Raga sangat licik, ia dengan santai menyatut nama-nama stadion untuk setting cerpennya. Seenaknya dia sulap Ewood Park yang sebenarnya stadion Blackburn Rovers itu menjadi sebuah taman. Lihat pula bagaimana kejinya dia mengubah kandang Leed United, Elland Road, menjadi seruas jalan. Sungging beralasan cerpen adalah lahan imajinasi, tempat untuk membayangkan sesuatu yang belum tentu ada dan tidak harus ada tapi anggap saja ada karena memang boleh untuk ada. Saya cuma bisa manggut-manggut.

Kemudian, dari bacaan-bacaan itu juga saya mendapati kelicikan-kelicikan penulis yang lain. Sungging, selain mencatut stadion dan membuat Mikel Arteta –gelandang Arsenal- sebagai tokoh cerpennya juga menjadikan obsesi pribadinya terhadap kereta sebagai bahan cerita. Benny Arnas menyusupkan terlalu banyak bahasa daerah. Dan Yetti tak canggung menjadikan cintanya kepada kopi sebagai panggung bagi ide-ide romantis.

Dari sana saya mulai berpikir untuk ikut-ikutan culas. Kalau cerpen Sungging bersetting stadion, Senja di Taman Ewood, bisa masuk cerpen pilihan Kompas, saya pikir cerita berlatar Bernebeu atau Veldabebas boleh dicoba. Toh, saya dan Sungging punya bacaan yang sama waktu kecil, tabloid olahraga (saya selalu merengek Bapak untuk membelikan Bola). Saya juga dapat ide untuk mengangkat keeksotisan lokal. Benny Arnas bangga menceritakan karet, Yetti genit menuturkan kopi, jadi dari sekarang saya mungkin akan bercerita tentang kayu manis, kelapa sawit atau nilam.

Saya cuma ingin mengatakan bahwa tak perlu jauh-jauh menjadi astronot untuk bercerita tentang bulan, kita bisa meratapi kepergian kekasih lalu berimajinasi bahwa rembulan tengah berduka. Jika Anda tak punya dayung, Anda harus berenang. Intinya, pergunakan apa saja yang kita punya untuk melakukan apa yang kita bisa.

Ok, mungkin demikian yang bisa saya bagi hari ini.

Apa yang Ditulis dalam Cerpen

Kamis, 08 Agustus 2013

Untuk Ramadhan yang Telah Hendak Undur Diri

Barangkali, bagi sebagian orang, Ramadhan tak menyisakan apa-apa kecuali penyesalan.

Ramadhan telah hendak undur diri. Sebentar lagi ia adalah kalender tahunan yang terlewati. Ia bakal menjadi medali bagi masing-masing peserta lomba, hadiah bagi pemenang sekaligus iming-iming pencibir kepecundangan bagi yang kalah. Tentunya, bagi golongan manusia yang disebut terakhir, ihwal itu menyisakan penyesalan.

Padahal, Ramadhan telah disambut dengan kebersediaan untuk berubah. Semuanya sadar Tuhan masih sangat welas asih pada kita tahun ini. Setelah setahun yang penuh kelalaian, Tuhan masih sudi memanjangkan sedikit nafas kita hingga Ramadhan datang. Inilah saat menebus dosa. Bisa saja kan, Tuhan mengambil nyawa kita ketika kita tengah terpuruk dalam gelimang dosa?

Namun, bersama kesadaran akan kemurahhatian Tuhan tersebut, sebagian manusia masih saja dungu. Ramadhan berlalu seperti yang lalu-lalu, tanpa perbaikan. Satu dua ibadah sunah memang terlaksana, tapi tak lebih dari pemenuhan rutinitas kehidupan bermasyarakat. Tanpa ruh.

Yang mengerikan adalah apabila kita terjebak dalam usaha sepenuh hati memenuhi protokoler formalitas tersebut. Makanan buka yang harus lebih mewah dari biasanya, pakaian taraweh yang harus lebih mencolok dari tetangga, atau rumah yang harus bercat lebih terang dari rumah-rumah di sampingnya.

Sementara itu, kita lupa lebih dermawan dari hari-hari lain, lebih menahan diri untuk tidak menunjukkan amarah, lebih mudah memberikan senyum dan maaf, serta lebih banyak mengingat mati.

Dan ketika Ramadhan telah berada di ufuk, ketololan kita terdedah dengan baru mengingat niat awal yang suci. Tapi, semuanya telah terlambat. Lailatul qadr sepertinya enggan datang pada mereka yang mengejarnya dengan licik, lalai pada hari-hari pertama dan baru berkelebat kencang menjelang akhir.

Barangkali, bagi sebagian orang, Ramadhan tak menyisakan apa-apa kecuali penyesalan. Buruknya, penyesalan seperti ini terjadi setiap tahun.

Mungkin saya termasuk orang-orang lalai itu. Tapi kawan, karena kita tak bisa memastikan satu kursi di Ramadhan tahun depan, kita harus membuat penebusan dosa secepatnya. Ramadhan akan segera berganti dengan Syawal yang glamour, namun karena kita ingin menebus kesalahan, kita harus menjalani hari-hari ke depan dengan hati Ramadhan. Hati yang lebih berpuas diri dengan keapaadaan, hati yang lebih ingin memberi, hati yang ingin selalu memperbaiki diri.

Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkan kembali Ramadhan adalah dengan menjalani hari-hari berikut laiknya Ramadhan.



Mari Tidak Merayakan Lebaran!

Selebrasi yang berlebihan akan diganjar kartu

Lebaran adalah hari kemenangan. Maka, seperti laiknya kemenangan-kemenangan lain, ia pantas untuk dirayakan. Lalu, seperti jamaknya perayaan, lebaran akan dipenuhi dengan atribut-atribut pesta pora. Sandang mewah baru yang serba mahal, makanan lezat yang serba berlemak, serta barangkali gadget-ganget keluaran terbaru menjadi tentengan.

Perkakas-perkakas itu tentunya bertentangan dengan semangat sederhana Ramadhan. Kita akan berdalih bahwa bermegah-megahan pada hari istimewa ini tak mengotori kesucian Ramadhan. Toh, ini adalah momentum yang dihadiahkan Tuhan. Pada hari ini kemenangan ditahbiskan, setelah sebulan penuh berjuang melawan hawa nafsu. Pertanyaannya adalah, apakah hawa nafsu dikekang untuk kemudian dibiarkan liar?

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang kemenangan itu sendiri. Mengapa pula kita begitu antusias merayakan kemenangan sementara belum tentu kita menggenggam piala? Pasalnya, tidak serta merta dengan datangnya lebaran, medali kemenangan mutlak dikalungkan. Tak ada orang yang tahu pasti apakah Ramadhannya dilalui dengan sukses, atau dengan kekalahan.

Yang saya tahu, ada satu barometer kemenangan sakral ini, yaitu terbentuknya pribadi yang lebih baik usai Ramadhan. Pribadi yang demikian adalah jiwa yang semakin berkeming dari kepentingan duniawi, semakin jauh dari nafsu kebendaan.

Dan tentunya, jiwa yang demikian adalah jiwa yang lebih berpuas diri, yang tak terlalu bernafsu untuk berselebrasi. Karena, walaupun orang-orang tersebut adalah sebenar-benarnya pemenang dan berhak merayakan, mereka adalah jiwa-jiwa yang telah akrab dengan kemenangan, sehingga tidak bersikap angkuh dan norak. Mereka sama sekali bukan lagi pribadi yang gagap dengan titel.

Ada sebuah pepatah yang saya dengar lagi dari seorang Mario Ballotelli mengenai perihal ini. Pesepakbola yang jarang melakukan selebrasi ini berujar ketika ditanya kebiasaan janggalnya itu, “Saat aku mencetak skor, aku tidak merayakannya. Itu sudah pekerjaanku. Apakah seorang tukang pos merayakan setiap kali dia mengirimkan surat?”

Ya, seorang tukang pos tak perlu girang berlebihan setiap usai menghantarkan surat. Itu adalah pekerjaannya. Begitu juga seharusnya seorang mukmin, melawan hawa nafsu adalah kewajiban, maka, tak perlu pula merayakan usainya masa pendadaran jiwa.

Lagipula, kita sudah sering menyaksikan, banyak saudara kita yang jatuh sakit tak lama setelah lebaran. Penyebabnya adalah konsumsi zat gizi yang berlebihan. Kalori, lemak, kolesterol, dan unsur-unsur makanan lain mempunyai dosis pengasupan. Setiap individu dapat merasakan manfaatnya bila mengonsumsinya dengan seimbang. Masalahnya, dalam hidangan-hidangan lebaran, makanan-makanan kita yang lezat punya masalah dengan keseimbangan gizi. Pun pola makan buruk gaya balas dendam.

Ihwal makanan di atas hanya salah satu contoh nyata. Selebihnya, euforia dalam hal apapun cenderung mengarah pada pelanggaran. Dalam sepakbola, selebrasi yang berlebihan akan diganjar kartu. Kebahagiaan yang kelewat batas akan membuat kita lalai.

Pada hakikatnya, kita hanya diwanti-wanti untuk tidak merayakan secara berlebihan. Perayaan dengan makna yang benar tak pernah dilarang. Dan sebenarnya, ada beberapa lebih yang dianjurkan dalam selebrasi lebaran: lebih murah tersenyum dan lebih mudah memaafkan.


Jumat, 22 Februari 2013

Kopiah Hitam dan Nasionalisme



Ketika masyarakat Indonesia dilanda krisis identitas, Sukarno mengajukan kopiah hitam.

Suasana Indonesia menjelang kemerdekaan sangat rumit. Situasinya tak sesederhana bertaruh nyawa demi mengusir penjajah kulit putih, ada masalah sosial, ekonomi, budaya, politik, dan banyak lagi yang harus turut serta dituntaskan. Tak bisa dianaktirikan. Kemerdekaan bukan saja perihal berkuasanya pribumi di tanah sendiri, tapi yang lebih penting adalah bagaimana berdikari di tumpah darah pertiwi.

Masalah demi masalah itu merupakan efek domino dari politik kaum imprealis. Penjajah memberlakukan politik divide et impera (pecah belah dan kuasai) untuk melemahkan kekuatan pribumi. Ulama dan santri diadu dengan para priayi dan kaum adat. Antar suku diintimidasi untuk saling benci. Perbedaan mazhab dikompori untuk menjadi akar perpecahan. Semua itu dalam rangka mencegah timbulnya kebersamaan dan persatuan pribumi.

Di antara berjubel masalah, krisis identitas adalah yang paling fundamental. Rakyat Indonesia tak tahu lagi bagaimana mereka beridentitas. Belanda sukses menanamkan rasa inferior terhadap budaya asli pribumi. Keadaan demikian memang merupakan tujuan utama dari misi penjajahan, mengalahkan penduduk negara jajahan secara fisik dan mental. Seperti diungkapkan oleh Carl Von Clausewitz dalam On War, bahwa untuk dapat memenangkan perang, maka yang harus diutamakan dan dijadikan target serangan adalah destruction of enemy’s will (penghancuran kemauan lawan).

Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah kolonial melarang penggunaan bahasa Belanda oleh rakyat. Selain itu, selaras dengan pelaksanaan politik tanam paksa, Belanda melakukan pemindahan masal penduduk ke daerah lain dengan budaya berbeda untuk menjadi buruh. Ini menyebabkan generasi baru dari komunitas tersebut kehilangan identitas budaya ibunya karena tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. 

Strategi lain, untuk melepaskan pribumi dari ikatan tradisi dan budaya, pemerintah Belanda membuat politik asosiasi. Dalam praktiknya, politik asosiasi mengembangkan budaya barat untuk mengikis tradisi Islam. Sehingga generasi baru pribumi tumbuh sebagai generasi yang tidak lagi memiliki rasa tanggungjawab dan tidak mampu mempertahankan jati diri, atau menurut istilah Erich Kahler, generasi yang tingkahnya lack of definite style of life (tidak lagi memiliki gaya hidup yang jelas).

Rasa inferior itu begitu berpengaruh dalam jiwa pribumi, terutama rakyat kalangan bawah. Dalam diri rakyat timbul semacam paradigma bahwa masyarakat kulit berwarna (Asia & Afrika) tak akan bisa mengalahkan orang kulit putih (Eropa). Bahkan, inferioritas itu juga mendera mindset para intelektual. Efeknya, kaum intelektual jadi benci semua hal yang berbau Indonesia, termasuk cara berpakaian. Mereka mencemooh pemakaian blangkon, sarung, serta peci yang biasa dipakai tukang becak dan rakyat biasa lainnya.

Tapi penyakit rendah diri ini tak menjangkiti jiwa seorang Sukarno. Dengan bangga Sukarno memperkenalkan pemakaian peci, dan akhirnya hingga kini -meski mulai surut- menjadi identitas nasionalisme bangsa Indonesia. Cindy Adam, dalam biografi Bung Karno, mengutip kata-kata Bung Karno tentang peci:

“Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh pekerja-pekerja bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Tapi istilahnya berasal dari penjajah. Dalam bahasa Belanda ‘pet’ berarti kopiah, ‘je’ akhiran untuk menunjukkan ‘kecil’, dan kata itu –peci- sebenarnya ‘petje’. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Perkara peci tersebut adalah contoh tindak nyata Sukarno mengusahakan kemerdekaan dengan memberi solusi terhadap permasalahan yang melanda bangsa Indonesia.

Masisir dan Identitas

Masisir adalah potret mini Indonesia. Keragaman budaya, latar belakang, paradigma, kecenderungan, serta perbedaan lainnya mencerminkan sepenuhnya ladang perjuangan Masisir sebenarnya, Indonesia. Dalam kebinekaan majemuk itu Masisir berdinamika. 

Dalam dinamika Masisir di bumi Kinanah ini, kita dipertemukan dengan budaya yang lebih beragam lagi dari berbagai penjuru dunia. Setiap komunitas membawa serta ciri khas masing-masing. Tingkah laku, karakter, makanan, bahasa, logat, dll, mencerminkan keadaan lingkungan yang menerpa tumbuh kembang entitas tertentu. Sederhananya, semua itu terbias dalam ragam pakaian masing-masing entitas.

Di sini kita mengenal keffiyeh, sorban Arab, dan mulai mengerti fungsinya selain sekedar tutup kepala. Sebagian wanita kita bahkan mulai akrab mengenakan pashmina. Lelaki-lelaki kita mengagumi wanita-wanita Turki beserta kerudung scarf khas mereka yang elegan. Mata kita juga terbiasa mengenali pelajar Malaysia dengan baju kurung Melayu dan peci putih terongok di atas kepala.

Masisir sendiri masih setia dengan pluralitas. Tak ada penanda khusus yang membuat orang mengenal manusia Indonesia kecuali raut muka Asia. Karena itu, seringkali orang Mesir memanggil kita dengan sebutan Shinî (orang China). Kita patut bersyukur, di ranah akademis, secara umum kecerdasan manusia Indonesia menjadi pembeda dari komunitas Asia Tenggara lainnya. Tapi di luar itu, terutama dari cara berpakaian, kita tak dikenal dengan baik.

Akhir-akhir ini, bersamaan dengan merebaknya demam batik di Indonesia, sebagian Masisir mulai akrab dengan baju batik. Ini adalah perkembangan bagus. Masisir mulai memiliki ikon diferensial. Tapi batik tak dikenali di musim dingin, karena kita harus mengenakan pakaian berlapis yang menutupi pengenaan batik.

Maka, memopulerkan kembali pengenaan kopiah hitam dapat menjadi solusi. Hingga saat ini, kopiah hitam masih menjadi bagian dari pakaian resmi nasional. Presiden -juga para mentri, dll- selalu mengenakan kopiah hitam sebagai aksesoris foto resmi . Kopiah hitam pun, seperti kata Sukarno, adalah asli milik bangsa kita. Pemakaiannya di kalangan rakyat Indonesia telah membudaya. Lagipula, kopiah hitam lebih nasional dari tutup kepala khas daerah, blangkon misalnya, sekaligus lebih praktis.

Dalam beberapa kesempatan, reaksi teman-teman dari negara lain sangat positif mengenai pengenaan kopiah hitam ini. Bahkan, beberapa kali kopiah hitam yang saya kenakan dipuji oleh dosen pengajar. Saya telah membuktikan sendiri kesan Sukarno bahwa kopiah hitam memberikan kesan anggun dan gagah. Lagipula, di negri orang lain, terutama karena kita dihadapkan dengan budaya-budaya dari bangsa lain, kata-kata Sukarno berikut menjadi relevan, “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia.”

Rabu, 28 November 2012

Siapa yang Teroris?

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah Amerika secara resmi menyatakan keberatan atas pernyataan Perdana Mentri Turki, Recep Tayyib Erdogan. Sebelumnya Erdogan mengecam keras serangan Israel di Gaza. Di antara kalimat Erdogan mengatakan bahwa Israel Israel sedang melakukan pembersihan etnis di Gaza. Erdogan juga menyebut Israel sebagai 'negara teroris'.

Sontak Amerika Serikat, yang jamak diketahui sebagai sekutu politik Israel, bereaksi keras atas pernyataan Erdogan.

“Saya ingin katakan bahwa beberapa retorika sangat keras yang datang dari Turki, kami anggap sama sekali tidak membantu," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland, seperti dilansir Xinhua, Rabu (21/11/2012).

Sementara itu, sudah sejak lama AS secara resmi memasukkan Hamas sebagai organisasi teroris. Demikian seperti yang terlampir dalam situs resmi pemerintah Amerika Serikat, www.us.gov. Ketika secara tidak diduga Hamas memenangi pemilu Palestina pada 2006 lalu, AS pun kebakaran jenggot. Di satu sisi, AS punya konsekuensi atas usaha promosi demokrasi yang mereka pawangi.

Di lain pihak, AS harus berusaha melestarikan pemerintah Palestina “yang lunak” untuk memfasilitasi kepentingan sekutu dekat mereka, Israel. Walhasil, AS dan kompatriotnya –Israel dan negara-negara Uni Eropa- berusaha melemahkan pemerintahan Hamas dengan memblokade aliran dana untuk Hamas. Bantuan yang sebelumnya dijanjikan untuk Palestine Authority –pihak yang berwenang atas Palestina selama belum diakui kemerdekaannya- sebesar 50 juta dolar distop. Uang pajak rakyat Palestina dengan jumlah nominal yang sama pun dibekukan Israel. Tak hanya itu, AS menekan negara-negara Arab yang nampak hendak memberikan bantuan ke Palestina.

Akibat aksi blokade finansial tersebut, pemerintah Hamas sempat mengalami krisis moneter. Pemerintah tak punya dana membiayai operasional hingga sempat tidak membayar gaji 160.000 pegawainya selama tiga bulan. Akhirnya, berkat bantuan dari negara-negara liga Arab, Hamas sedikit demi sedikit bisa mengatasi krisis ini.

Dari data-data di atas, nampak jelas usaha AS dan sekutunya untuk melemahkan pemerintahan Hamas yang mereka anggap teroris. Ini belum termasuk usaha pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpin Hamas yang berkali-kali terjadi. Terakhir, pembunuhan terhadap Ahmad Al Jabaari, pemimpin sayap militer Hamas, menyebabkan konflik militer selama seminggu antara Hamas vs Israel.

Definisi teroris memang sangat abu-abu. Tidak jelas bagaimana suatu golongan bisa dianggap sebagai teroris. Dalam kasus Palestina, apakah Hamas yang merepresentasikan suara rakyat Palestina bisa dikategorikan sebagai teroris. Selama ini, Hamas tidak pernah meluncurkan roket-roket peledak kecuali ada intimidasi dari Israel –termasuk peluncuran roket terakhir yang diawali oleh seranga Israel-. Lagipula, dari data yang bisa kita ketahui dari media manapun, korban jiwa yang jatuh di Palestina jauh lebih banyak daripada  penduduk Israel yang cuma terluka. Lalu, apakah usaha hamas untuk menunjukkan kedaulatan bangsa Palestina sekaligus melindungi rakyatnya adalah gerakan terorisme? Saya lebih sepakat dengan pernyataan Erdogan, Israel lah teroris yang sebenarnya.

Jumat, 20 Juli 2012

Sastra dan Dakwah

Sebagai akademisi yang dicetak ilmiah dan sistematis, barangkali ada segelintir orang yang antipati dengan sastra. Sastra dianggap hanya memainkan peran nomor dua dalam dunia intelektualitas. Terlebih, ada yang memandang sastra tidak memiliki pengaruh dalam membangun kondusifitas untuk dunia keilmuan.

Sastra, bagaimanapun, tidak bisa dilepaskan dari dunia keilmuan. Meskipun secara prinsipil terdapat perbedaan metode yang cenderung kontras (jika iptek banyak berbasis pada fakta ilmiah yang obyektif, sastra lebih mengandalkan nalar subyektif sebagai bahasa pengantar), sastra tidak bisa dipisahkan begitu saja dari komunitas ilmu-ilmu ilmiah. Hal ini dikarenakan peran sastra yang tidak sedikit dalam membangun peradaban manusia, sesuatu yang juga menjadi tujuan utama pelbagai disiplin keilmuan. Dapat kita saksikan di masa ini, sastra menjadi fokus besar dalam dunia intelektualitas, dunia mengolah kata ini mendapatkan porsi perhatian yang amat besar. Terbukti dengan adanya fakultas sastra yang bermunculan di banyak univesitas.

Pentingnya sastra tidak bisa dinafikan oleh mereka yang benar-benar insan akademisi. Diskursus tentang hal ini sudah berjubel dengan konklusi yang menjadi kesepakatan bersama, sastra sangat penting. Sastra bukanlah “bonus” atas sebuah tujuan utama sistem pendidikan. Tetapi sastra adalah bagian dari tujuan itu sendiri, karena bersinergi mengerjakan sebuah misi bersama.

Urgensi sastra menjadi lebih signifikan ketika merambah konteks keindonesiaan. Masyarakat Indonesia masih belum menjadi masyarakat pintar yang dengan cerdas memilah-milah input. Masyarakat kita adalah masyarakat alay yang akan selalu hanyut dalam arus dominan.

Contoh nyata bisa kita lihat dalam dunia perbukuan. Indonesia adalah negara payah dalam membaca. Taufik Ismail, sastrawan kondang, bahkan menamainya komunitas nol buku. Bayangkan saja, barometer best seller di Negara berpenduduk 250 juta jiwa ini adalah (hanya) 3000 ekslemplar buku, tidak sampai 0,001 persennya.

Yang lebih miris, komunitas pencinta buku yang minim itupun bukan merupakan masyarakat pintar. Bagi mereka, buku bukanlah rujukan ilmiah. Buku lebih berupa bahasa kecenderungan kontemporer bagi konsumennya, sekaligus ladang bisnis bagi kalangan produsen. Karena itu, kualitas bagus dan absolut benar saja tidak menjamin ke”laku”annya di Indonesia.

Di sinilah peran sastra menjadi determinan. Sastra bisa merasuk ke masyarakat luas untuk menjalankan misinya, (maaf, saya mengutip manifesto Gatra) kritis tanpa mengiris, tajam tanpa menikam, hangat tanpa membakar, mengungkap tanpa fanatisme.

Sastra bisa menjadi pemecah kebuntuan di saat keilmiahan masih dianggap momok. Terbukti, Laskar Pelangi mampu mendobrak daya baca masyarakat Indonesia. Sebelum Laskar Pelangi terbit pada 2006, sulit dibayangkan di Indonesia jutaan orang akan membaca buku. Ada sebuah penelitian yang memperkirakan kurang lebih 12 juta copy dari novel itu telah beredar, baik resmi ataupun tidak.

Ada lagi cerita sukses sastra, novel AAC (Ayat-Ayat Cinta) sampai saat ini masih membuat kritikus sastra bingung karena sambutan masyarakat yang begitu heboh. Meski secara kualitas mendapat banyak kritikan, AAC memperoleh banyak pujian karena fungsi efektif yang diperankan. Berapa banyak orang setelah membaca AAC menjadi paham ajaran-ajaran islam yang tersebar dalam kehidupan kemudian mempraktekkannya.

Dari catatan diatas, menjadikan sastra sebagai sebuah jalan dakwah bukan lagi sebuah cara alternatif. Untuk saat ini, sastra sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari metode dakwah. Di tengah masyarakat Indonesia yang awam baca, sastra boleh jadi sudah menjadi fardhu kifayah untuk menyampaikan dakwah.  Ma la yatimmu al wajib illa bihi fahuwa wajib.

Rabu, 29 Februari 2012

Mari Menggunakan Facebook dengan Bijak

Jika pertanyaan berikut diajukan kepada anda apakah yang akan menjadi jawabannya: berapa lama waktu yang anda habiskan di dunia maya? Jika jawaban pertanyaan tersebut masih terlalu naïf dan normatif, mari menjawab pertanyaan selanjutnya: dari sekian lama tersebut, apa manfaat yang anda dapatkan dari dunia maya?

Jawabannya bervariasi berdasarkan subyektifitas masing-masing. Tidak bisa dipastikan angka-angkanya karena belum ada riset khusus mengenai obyek diatas, dalam konteks Masisir. Tapi sepertinya tidak ada yang memungkiri jika saya mengatakan bahwa kehidupan dunia maya sudah menjadi kebutuhan manusia modern. Terlebih lagi kita sebagai akademisi, seperti ada legitimasi khusus untuk berselancar di dunia cyber karena status kemahasiswaan kita. Konotasi dunia maya, oleh orang awam, sudah identik dengan intelektualitas. Tak jauh berbeda dengan opini yang terbangun untuk komputer dan mesin ketik di masa jayanya. Orang yang berkecimpung dengan alat-alat elektronik tersebut terkesan memiliki angka intelegensia yang lebih tinggi dari rata-rata. Kalau mau lebih hiperbolik, sepertinya kaum Mu’tazilahpun (jika ada saat ini) lebih memilih untuk mengakui eksistensi alam maya daripada mengakui adanya alam kubur.

Dunia maya memang sudah menjadi lahan baru bagi manusia modern. Tapi saya tidak akan berlarut-larut membahas (fe)nomena ini. Saya bukan ahli komputer sehingga kompetensinya mumpuni untuk berbicara panjang lebar. Saya hanya ingin menilik satu fenomena yang menurut saya pribadi menarik.

Berbicara tentang dunia maya, ada interpretasi unik mengenainya. Mungkin bukan di kalangan ekpert dan mereka yang memang berkecimpung dalam dunia ini. Di kalangan awam, dunia maya sudah memiliki interpretasi minor sebagai satu situs jejaring sosial bernama www.facebook.com.

Belum lama ini saya membaca postingan salah seorang kawan mengenai Facebook. Dijelaskan bahwa Facebook (menurutnya) adalah pengejewantahan teknologis dari budaya Yahudi. Wall dalam facebook diidentikkan dengan tembok ratapan di Yerussalem. Tempat mereka yang mengaku anak cucu Israel berkeluh kesah, mengadu, menangis, dan berdoa. Saya selalu apatis dengan hal-hal yang cenderung paranoid seperti ini. Saya lebih tertarik dengan fakta yang lebih penting dari itu.

Facebook menjadi begitu fenomenal belakangan. Dari data Socialbakers.com, pengguna Facebook di Indonesia mencapai angka 43.060.360 juta jiwa. Situs media sosial ini memang lebih sederhana dan fleksibel dari situs sejenis yang pernah ada. Dengan Facebook, kita bisa lebih mudah berhubungan dengan teman, mitra sejawat, kolega bisnis, atau mudahnya berhubungan dengan orang-orang dalam hidup kita. Sesuai slogan Facebook sendiri , Facebok helps you connect and share with the people in your life.
Walaupun hanya maya, tidak bisa dipungkiri bahwa Facebook mempunyai manfaat yang riil selain sekedar berhubungan dengan teman. Manfaat Facebook yang bersifat materi yaitu sebagai tempat jual beli dan promosi barang dengan cara instan dan efektif. Ada lagi manfaat yang bersifat intelektual yaitu sebagai media bertukar pikiran dan diskusi. Dahsyatnya, Facebook bisa digunakan untuk menghimpun suara beraspirasi terhadap suatu perkara. Jika anda memperhatikan perkembangan berita tanah air, tentu tahu dengan group dukungan untuk KPK dan Prita beberapa waktu yang lalu. Dalam kasus Arab Spring, peran Facebook juga tidak bisa dikesampingkan. Di Mesir sendiri, laman facebook “We Are Khaleed Said”- didedikasikan untuk remaja yang tewas di Alexandria karena kesewenangan aparat - punya andil sangat besar dalam penyebaran ide revolusi.
“Mungkin ini adalah revolusi dari hati nurani rakyat, tetapi internet berperan besar memfasilitasinya.” Kata Rasha Abdulla, Professor jusnalistik dan media masa American University Kairo dalam seminar bertajuk “Tweeting the revolution: how sosial media helped bring down a dictator” belum lama ini.

Menurut Abdulla, di dunia maya secara bertahap terbentuk jaringan komunikasi horizontal antar pengguna internet dan membuat mereka merasa memiliki kekuatan untuk menyuarakan aspirasinya. Demikianlah, Facebook sudah sedemikian besar berpengaruh dalam dunia nyata.

Tahun lalu saya bertemu dan sempat berbincang sebentar dengan seorang jurnalis Internasional. Dia pernah bekerja di BBC dan NPR dan beberapa media lain. Di Mesir dia membawa misi penelitian seputar kehidupan masyarakat muslim Indonesia di Mesir pasca revolusi. Mencuat pertanyaan di benak saya, apa pentingnya kehidupan muslim Indonesia pasca revolusi bagi LSM barat? Kemudian saya tersadar dengan fakta bahwa selama ini kita melihat banyak turis berpelancong tanpa tahu tujuan utamanya. Waktu itu saya berkesimpulan bahwa gerakan ini adalah spionase terselubung yang dilakukan barat. Berdasarkan pelajaran orientalis di masa lampau yang begitu pintarnya berkedok, kita selayaknya khawatir dengan fenomena ini.

Lantas apa hubungannya dengan dunia maya dan Facebook?

Sampai detik ini, suka atau tidak, barat menguasai dunia dari berbagai sisi kehidupan. Hegemoni itu selain merupakan konsekuensi logis dari kemajuan iptek mereka yang luar biasa, juga karena kontrol mereka terhadap media. Media berperan besar mengatur opini yang berlaku. Media di dunia modern sudah menjelma menjadi semacam agama baru, karena melakukan peran agama dalam menentukan baik buruk suatu perkara atau kejadian. Kedigdayaan media tersebut muncul akibat obyektifitas karena validnya data. Sebenarnya bukan tanpa subyektifitas, tetapi karena mereka benar-benar menguasai data yang diperlukan untuk mengajukan sebuah fakta.

Jika kita kritis, kita akan bertanya darimana semua data penting itu berasal. Selain dari reportase langsung, ada sumber-sumber sekunder (primer menurut saya). Data-data itu berasal dari penelitian-penelitian organisasi-orgasisasi kecil mengenai perkara sederhana. Seperti penelitian jurnalis yang saya temui tadi. Secara dzahir mungkin urgensinya minim karena hanya mengenai komunitas atau entitas kecil. Tapi hal-hal kecil tidaklah remeh jika berkenaan dengan data, karena itu berarti data yang diambil detail dan valid. Semakin banyak dan detail data, akan semakin kuat hukum general yang diambil. Dari data-data kecil itulah disimpulkan kesimpulan penting mengenai keadaan kita (muslimin). Dan dimanfaatkan untuk berbagai tindakan yang menguntungkan mereka.

Kaitannya dengan Facebook, secara tidak kita sadari kita mensuply data secara cuma-cuma kepada mereka. Di Facebook, tak jarang kita saling berbagi data penting dengan mitra kita. Dengan mengunggahnya maka secara otomatis data itu telah tersimpan di server. Selama ini mungkin tidak ada bukti penyalahgunaan data pengguna oleh pihak pengelola situs. Tapi, setidaknya dengan mengetahui ini kita menjadi lebih hati-hati dan bijak menggunakan Facebook.

Kita tidak perlu menjadi parno dengan semua ini, solusinya kembali kepada diri sendiri. Sebagai muslim sudah seharusnya kita hanya melakukan yang bermanfaat, min husni islami al mar’I tarkuhu ma laa ya’niihi.Kekhawatiran diatas bisa ditanggulangi jika kita menggunakan media secara bijak. Dengan update status yang baik-baik, sharing hal bermanfaat, uploading hal baik pula, maka mereka (siapapun) akan menemukan fakta bahwa dalam diri kita hanya ada kebaikan. Dan mereka tak akan bisa berbuat apapun yang merugikan kita selama diri kita dipenuhi kebaikan.

Jumat, 15 Oktober 2010

Energi Positif Ramadhan

Jujur saya katakan, ramadhan selalu menjadi bulan yang spesial buat saya. Saya pribadi merasa jika hawa selama bulan ramadhan berbeda dari bulan-bulan yang lain, seperti ada aura lain dari bulan ini.
Secara puritan, kita hanya tahu bahwa ramadhan adalah bulan yang mulia. Doktrin seperti itu memang tak salah jika kita yakini, karena pada hakikatnya benar tidaknya sesuatu selalu berbanding lurus dengan seberapa besar keyakinan kita. Bahkan Al quran membedakan antara orang yang beriman (yakin) dan tidak beriman (tidak yakin).
Namun sebagai manusia berakal, sudah sewajarnya jika kita mempertanyakan mengapa ramadhan itu menjadi mulia dilihat dari sisi ilmu pengetahuan. Meskipun kita tidak akan perrnah mengetahui semua rahasia tentang itu, namun bagaimanapun keyakinan yang berdasar (ittiba’) jauh lebih kuat daripada yakin karena doktrin (taqlid).
Akhir-akhir ini ada sekelompok ilmuwan yang tergabung dalam neotic science melakukan penelitian mengenai mitos-mitos dari sudut pandang science. Mereka mencoba menemukan missing link yang menghubungkan hal-hal yang selama ini cukup kita yakini dengan fakta-fakta ilmiah. Dan dari beberapa hal yang berhasil mereka simpulkan, ternyata luar biasa.
Salah satu contoh adalah kesimpulan mereka bahwa pikiran mempunyai masa, dan berat masa pikiran tergantung pada konsentrasi. Gampangnya, semakin fokus seseorang, semakin berat masa pikirannya. Dan semakin banyak orang yang berkumpul dalam suatu ruangan berkonsentrasi dalam satu hal semakin berat pula masa pikiran tersebut. Dan semakin berat masa pikiran, semakin besar pula efeknya bagi alam nyata.
Di bulan ramadhan, kita menyaksikan banyak masjid penuh sesak dengan jamaahnya. Semua individu berkonsentrasi sehingga masa pikiran mereka pun menjadi berat, hal itu berefek pada memancarnya energi positif sehingga suasana ramadhan dipenuhi deangan aura positif.
Dalam bulan ramadhan ada suatu malam bernama lailatul qadr, dan selama ini kita hanya tahu bahwa malam lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan dan konon doa pada malam itu pasti dikabulkan.kita harus mengajukan pertanyaan mengapa malam lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan?
Al Quran selalu menarik untuk dibahas, Dalam hal ini al Quran memberi porsi tersendiri bagi pembahasan Lailatul Qodr dengan adanya satu surat yaitu Al Qodr. Dan jawaban dari pertanyaan diatas tercantum dalam surat ini. Diawali dengan pernyataan bahwa Al quran diturunkan pada lailah qodr, kemudian berlanjut deangan pertanyaan yang menggelitik keskeptisan pembaca: Wa maa adraa ka maa lailatul qodr? Dilanjutkan dengan keterangan bahwa lailatul qodr itu lebih baik dari seribu bulan. Kemudian beranjak pada jawaban pertanyaan tadi: tanazzalulmalaikati warruhu fiiha biidzni robbihim min kulli amrin. Salamun hiya hatta mathla’i alfajr.
Karena pada malam itu turunlah malaikat-malaikat yang turut berdoa, sehingga energi positif itu bukan hanya dari manusia tetapi juga berasal dari malaikat-mailaikat yang memenuhi langit dan bumi ketika malam itu. Bisa dibayangkan kumpulan masa dari pikiran semua yang berdoa tersebut, tentunya amat berat sehingga efeknya di dunia nyatapun amat besar. Seehingga barangsiapa berdoa di malam itu, kemungkinan besar akan terijabah.
Saya mengalami pengalaman pribadi mengenai dua ramadhan yang telah saya lalui. Dari dua ramadhan yang bertepatan dengan tahun lalu dan tahun sebelumnya itu saya mendapatkan pelajaran. Betapa apa yang kita lakukan selama ramadhan ternyata menggambarkan perjalanan hidup kita setahun kedepan.
Ramadhan dua tahun lalu, saya begitu bersemangat untuk beribadah. Hampir setiap malam saya lalui dengan qiyamullail. Intinya, pada bulan ramadhan itu saya berusaha sebaik mungkin untuk menyempurnakan ibadah saya. Ramadhan yang satunya tahu lalu, saya tidak terlalu bersemangat untuk beribadah. Ibadah yang saya lakukan hanya sekedarnya.
Dari dua ramadhan yang berbeda itu saya mendapatkan pelajaran, betapa hidup saya secara umum setelah ramadhan pertama begitu damai, seolah banyak keajaiban terjadi yang memudahkan hidup saya. Sedangkan setelah ramadhan kedua (tahun ini), saya merasa banyak cobaan berat yang harus saya lalui, seperti tiada henti kesulitan menghampiri. Semua itu menjaddi pelajarran buat saya agar ramadhan saya berikutnya khususnya tahun ini harus lebih baik dari sebelumnya.