RSS
Semua orang hidup dalam tempurung, dan semua menganggap itulah alam semesta.
Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2014

Pulang

“Pulanglah, nak, pulang!”
“Tapi kemana, bu?”
“Ke Hatimu!”

Ini bukan gombalan Andre Taulani di OVC atau gurauan Stand Up Comedy-nya Dodit. Ini adalah pengajewantahan sederhana atas kegundahan pelik orang-orang yang hendak dan mesti pulang tetapi tak tahu kemana, saya termasuk salah satunya.

Saya tak punya “kampung halaman”, tempat yang dikenal baik bentuk pepohonan, aroma udara, kejernihan air sungai, beserta  jenis ikan-ikannya. Tempat kita merasa nyaman dengan orang-orangnya, yang menyuguhkan senyum dan sapaan saat berpapasan di jalan, dan mengundang kita mampir saat  lewat depan rumah mereka.

Orang tua saya baru pindah rumah ke desa yang baru. Desa yang keadaannya sudah lebih baik dari kampung masa kecil saya dihabiskan. Sekarang sudah ada listrik PLN jadi Bapak tidak perlu menghidupkan mesin genset setiap pukul lima sore, dan saya bisa nonton tivi kapan tanpa lebih dahulu membeli bensin. Jalan depan rumah sudah diaspal sehingga Ibu tak usah khawatir Bapak tidak pulang karena cuaca buruk. Ibu juga tak perlu memasak dengan kompor minyak tanah karena seratus meter dari rumah sudah ada penjual tabung gas.

Tetapi saya belum kenal dengan orang-orangnya. Saya baru satu bulan tinggal di sana setelah pulang dari pondok, sebelum saya harus pergi ke bumi Kinanah ini. Jadi saya perlu belajar dari dasar bagaimana bergaul dengan mereka, obrolan-obrolan yang menarik di antara mereka, guyonan-guyonanapa yang membuat mereka tertawa, dan terutama perihal apa yang tak boleh dikatakan karena akan menyinggung perasaan orang kampung sini. Saya juga tak punya teman di sana.

Teman-teman saya ada di kampung lama. Tapi terakhir kali saya ke sana, kebanyakan sudah tak ada. Ada yang, kata Ayahnya, disekolahkan kerabat di Jawa. Ada yang kerja jadi buruh di Bekasi. Sebagian kecil, terutama yang perempuan, masih bertahan di kampung, tetapi sudah membopong momongan. Yang menyedihkan, orang-orang kampung lama pun sudah pangling dengan perawakan saya. Mereka melihat saya layaknya orang asing yang berkunjung. Tiga tahun lalu, seorang bapak paruh baya menyipit-nyipitkan mata melihat saya di jalanan. Ini saya Pak, yang dulu menangis karena terpeleset jemuran kopi saat berlari-lari di halaman rumah bapak. Tapi bapak itu tidak ingat juga.

Sebenarnya saya punya satu kampung lain yang istimewa, kampung damai, pondok tempat saya menghabiskan masa remaja dalam dinamika. Tetapi lupakan! Teman-teman satu angkatan sudah banyak keluar, hanya tersisa beberapa gelintir. Santri-santrinya pun sudah regenerasi, pastinya tak banyak yang mengenal saya. Mereka akan melihat saya sebagai orang luar yang membawa pengaruh buruk bagi kepondokmodernan. Hanya ada dua tipe alumni di pondok saya, mereka yang telah jadi orang besar dan dibanggakan, satu lagi cecunguk-cecunguk yang dianggap produk gagal.

Bagaimanapun, saya mesti pulang. Orang pergi untuk kembali dan pengembara tak patut berdiam terlalu lama. Tapi kemana?

Karena kita tak punya tempat, mari pulang ke hati masing-masing. Mari kembali pada nurani dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya perjalanan hidup ini. Karena hati yang membumi selalu menemukan orang-orang yang membukakan pintu. Hati yang berani tak punya tempat yang ditakuti. Hati yang yakin dan tekun selekasnya kan dapat tempat yang menaungi.

Kamis, 28 Februari 2013

Nothing



It’s ok to be nothing. Cz I come from nothing, and will turn back into nothing.

Aku datang dari ketiadaan. Dari negri seberang yang APBD-nya kurang lebih setara dengan anggaran satu kabupaten di Jawa. Dari desa yang jalannya satu taraf dengan jalan-jalan pinggiran Bandung menjelang kemerdekaan. Dari bumi yang tiada punya cerita heroik kecuali pesona Fatmawati, sang penjahit bendera proklamasi.

Aku muncul dari kerendahan. Dari rumah yang penghasilannya hanya sebesar rata-rata pengeluaran. Dari rumah yang pasaknya sama besar dengan tiang. Kadang-kadang lebih sedikit, tapi lebih sering kurang. Dari keluarga kelas Pak Marhaen. Bedanya, Pak Marhaen beruntung karena dijadikan inspirasi Sukarno untuk menyebut gaya sosialisnya. Kini, siapapun tahu marhaenisme.

Aku tumbuh dari kesekadaran. Tidak terlalu miskin, tapi tak pantas disebut kaya. Tiada pula cocok disebut kelas menengah. Bagiku, menengah adalah sebutan bagi mereka yang hidupnya berkecukupan untuk segala keinginan kapitalis. Tapi, Ayah dan Ibuku tak begitu.

Dari keserbatanggungan itu aku melangkah. Selama ini sejarah hanya mencatat tinta emas untuk dua golongan manusia. Pertama, untuk mereka yang tumbuh besar dalam buai serba kecukupan. Orang-orang itu, kalau pun tidak sukses karena limpahan harta, akan berhasil karena keluarga mereka tahu bagaimana membentuk anak-cucu mereka. Terang saja, setiap harinya dicekoki petuah-petuah bijak dari buku-buku mahal. Untuk orang-orang tua kelas menuju-menengah, tak tahulah mereka alegori-alegori macam itu.

Satu lagi yang ditulis sejarah adalah mereka dari kelas serba kekurangan. Manusia dengan himpitan macam itu mau tak mau harus bergerak, supaya hidup. Karena itu anak-anak mereka mandiri, juga berwatak cekatan dan berontak. Dalam pola pikir mereka hidup seluruhnya adalah kerja keras. Maka, rintangan apa yang mampu menghalangi kesuksesan mereka? Aku bukan dari kalangan ini.

Karena itu, aku berkembang tanpa kelebihan. Karena aku tak hidup dalam lingkung yang memahami potensi bakat kemudian memberikan sarana yang mendukung. Aku bahkan tak paham apapun tentang kecenderungan, kecuali sedikit buku-buku yang memberiku sedikit rasa senang. Horizonku pun hanya berupa kandungan buku-puku pengisi perpustakaan sekolah dasar.

Maka, ketika aku harus kalah bersaing dengan anak-anak para bestari, aku tak perlu mengambil hati. Mereka lebih berhak menjadi penerus-penerus negeri. Di tangan merekalah masa depan ibu pertiwi diperjuangkan. Dari mulut mereka, kebijaksanaan-kebijaksanaan baru dicetuskan, ditulis, dan diabadikan. Dengan kisah perjalanan hidup mereka nantinya buku-buku sejarah akan ditulis.

Bila ada satu dua prestasi yang kuukir, ku anggap hadiah dari Tuhan. Tuhan maha baik. Dia tahu bahwa orang kelas pas-pasan macam saya ini, jarang sekali dapat hadiah. Maka, sesekali Tuhan menganugrahkan. Dia tahu, dengan ini kami akan sangat senang.

Aku hanya perlu berjalan tanpa beban. Kesuksesan bukan tujuanku. Kegagalan bukan ketakutanku. Aku hanya ingin bekerja untuk Tuhan agar sesekali diberi kejutan. Lagipula, aku hanya butiran debu dalam alam raya ini.

Rabu, 26 September 2012

Alasan


Aku mengerti sepenuhnya jika  terkadang (bahkan sering) aku memang terlalu banyak omong besar. Jika aku memberikan orang kesempatan untuk memberikan masukan,  mungkin banyak orang akan menganjurkan aku untuk mengurangi semua itu. Karena menurut mereka, polahku yang demikian justru bisa mempersulit diriku sendiri. Aku tahu, terkadang aku terlalu idealis. Dan logikanya, terlalu idealis itu utopis dan tidak realistis.

Kehidupan yang aku khayalkan mungkin terlalu utopis dan lebai bagi banyak orang. Aku ingin kehidupan yang besar dan penting. Aku ingin eksistensiku di dunia ini memainkan peran penting bagi dunia dan umat manusia. Aku tak mau menjalani sekedar perang pendukung. Seperti biasa, visi besar selalu mengundang reaksi pesimistis.

Nada-nada pesimis memang selalu mengiringi ritme perjalanan hidup. Tapi dalam hidup ini, kita memiliki banyak sekali  alasan untuk terus maju. Alasan-alasan itu adalah apa yang pernah terjadi dalam hidup kita dan yang sangat berkesan dalam. Kita bisa mejadikannya alasan untuk terus berjuang di samping alasan utama hidup ini, menggapai ridha Allah semata. Dan, diantara banyak alasan itu kita bisa memilih beberapa yang patut dijadikan alasan istimewa.

Alasan pertama bagiku adalah karena aku adalah seseorang yang istimewa di mata ibuku. Ibuku selalu memperlakukanku layaknya anak raja. Semua inginku selalu diturutinya sebisanya. Anehnya, Ibu juga tak pernah menuntut banyak hal dari diriku. Saat para orang tua menuntut anaknya berprestasi tinggi, beliau hanya bilang: belajarlah sewajarnya saja! Beliau cuma ingin agar aku menjadi diriku, apa adanya.

Tapi, perlakuan beliau yang bisa dibilang memanjakan itu justru membuatku berazzam, “Aku harus membuktikan bahwa aku memang istimewa”.

Alasan selanjutnya adalah karena guru mengajiku, Pak Saliman, pernah bilang: “Anak ini bisa bersaing.”

Ya, kata-kata itu selalu ku kenang. Kata-kata itu yang membuatku yakin bisa lolos ke Gontor 1, meski sainganku di Gontor 2 adalah 2000an capel, yang berasal dari sekolah-sekolah berkualitas di kota-kota besar. Sementara aku, hanya lulusan sebuah sekolah dasar yang keberadaannya sekedar formalitas di pelosok Sumatra.

Kata-kata Pak Saliman pula yang membuatku yakin bisa naik kelas meski duduk di kelas 1G (kelas ketiga paling bawah) di Gontor dulu. Akhirnya, aku malah langsung naik kelas tiga karena nilaiku di kelas satu sangat tinggi.

Alasan berikutnya adalah egoisme dan egosentrisku. Ya, karena aku terlahir bukan sebagai anak raja, bukan pula ahli waris orang kaya. Aku bukan keturunan orang penting, bukan juga putra ulama. Maka setidaknya, aku harus berbuat sesuatu yang berharga.

Sebenarnya sangat sederhana untuk menjadi orang penting dan mulia dalam hidup ini, kita hanya perlu memiliki orientasi yang mulia. Semakin mulia visi kita, semakin penting dan mulia hidup kita.

Alasan lain adalah tentang seorang sahabat. Dia yang begitu tidak beruntungnya dalam kehidupan ini. Dia yang semua kesulitannya membuat aku malu jika memutuskan berhenti. I promise I will never turn back, buddy! See you at the top!

Alasan selanjutnya, emm, oia, perkataan seseorang. Seseorang pernah mengatakan: “Antum itu orang hebat, Akh. Antum harus terus maju.”

Well, itulah sebagian alasan-alasanku. Itu semua yang membuatku selalu mengusir jauh-jauh rasa bimbang, mengubur dalam-dalam rasa ragu. Itu yang membuatku merangkai kata-kata penyemangat daripada menuliskan keluh kesahku. Itu semua yang membuatku lebih memilih untuk terus berjuang dari pada berhenti.

Lakon Penting

Dahulu sekali, saat kita belum terlahir di dunia ini, saat kita belum berbentuk sempurna, kita sudah mengucap sumpah di hadapan Tuhan. Waktu itu, kita masih berada dalam rahim ibunda, dan ruh pun baru akan ditiupkan. Sumpah itu adalah tentang kesiapan kita menjadi manusia. Sumpah itu mengenai kesombongan kita menerima sebuah amanah berat, menjadi pemimpin di muka bumi ini.

Aku bilang kita –manusia- sombong karena menerima amanah itu, mengapa? Karena malaikat yang konon makhluk suci saja tak punya nyali untuk mengatakan “iya” pada tawaran sulit ini. Mereka –para malaikat- adalah makhluk yang sudah membuktikan mampu mengemban semua amanah mereka selama ini tanpa cacat, tapi untuk tawaran ini, malaikat tahu diri. Nah, kita, manusia yang punya nafsu setan, berani-beraninya ambil resiko ini? Tapi, semuanya memang sudah tersurat demikian.

Sumpah itu, kebersediaan kita memegang amanah itu, sudah terucap. Dan sekarang kita sedang menjalaninya dalam kehidupan ini. Tapi, tak ada satu orang pun tahu seperti apa detailnya sumpah yang telah kita ucap. Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai bentuk tanggungjawabnya?

Tanggungjawab itu, Kawan, adalah tentang bagaimana membuat dunia yang lebih baik. How to make a better world. Dengan modal yang telah dianugrahkan dalam diri kita – panca indra, akal, bakat, dll- Tuhan ingin melihat apa yang bisa kita lakukan di kehidupan ini. Tuhan ingin kita menjalankan sebuah lakon dalam skenario besar milik-Nya.

Lakon itu, Kawan, demokratisnya, bisa kita pilih dengan suka-suka (mungkin itu rahasia Tuhan membuat kita “amnesia” setelah bersumpah, agar kita bebas memilih peran masing-masing semaunya). Anda boleh memilih menjadi tokoh protagonis dalam sandiwara besar ini atau sebaliknya, menjadi sang antagonis yang dibenci. Bukan itu saja, Anda juga boleh memilih untuk menjadi salah satu dari aktor utama sinema akbar ini atau lebih suka sekedar pemeran pembantu. Fantastisnya, Anda bahkan boleh memilih “gaji” yang akan anda dapatkan setelah pentas. Mau surga atau neraka?

Lihatlah, atas semua kemurahan hati Tuhan pada hamba-Nya, betapa Tuhan begitu baik hatinya pada kita sekalian!

Lalu, mengapa masih saja ada orang yang memilih menjadi pelengkap berjalannya dunia daripada menjadi penggerak utamanya? Mengapa masih ada orang yang berpikiran sempit dan memilih hidup ala kadarnya? Bukankah kesempatan sudah Tuhan buka selebar-lebarnya? Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau hendak sangsikan?

Aku tahu, karena aku sudah menemukan dengan mata kepalaku, bahwa segelintir orang berkata: “kita sudah tertakdir menjadi pelengkap, dan sebagian orang telah tercipta menjadi penggerak.”

Hei, bukankah semuanya juga telah ditentukan. Sudah tertulis di buku-Nya sana apakah aku di surga atau kau di neraka. Tapi sekarang, siapa yang tahu? Dia begitu pemurah untuk tidak membocorkan sedikitpun suratan takdir milik-Nya. Kita masih bisa memilih, Kawan.

Dan bukankah perkataan itu sama dengan perkataan seorang pencuri: “aku sudah ditakdirkan menjadi pencuri?” Kita semua tahu, Kawan, perkataan seperti itu tak bisa dikemukakan di hadapan-Nya. Wa huwa la yus’alu ‘amma yaf’al fahum yus’alun.

Karena itu, marilah kita memilih takdir kita ditulis oleh apa yang telah Tuhan anugrahkan dalam diri kita –potensi-, bukan membiarkannya rusak karena membiarkan alam, orang lain dan keadaannya mendiktenya. Mari kita berdecak kagum dengan ini, kehebatan kita, potensi kita. Karena ini adalah juga sebagian dari kebesaran yang Tuhan anugrahkan pada kita. Bukan cuma berdecak kagum dengan kebesaran Tuhan yang ada di sekeliling kita.

Mari, Kawan, bersama-sama kita kita memilih kehidupan yang besar lagi penting, hidup yang mulia serta berpengaruh. Karena itu juga yang Tuhan inginkan dari eksistensi kita di dunia ini.

God calls on us to shape our uncertain destiny (Obama)

Wanita Cantik


Sebetulnya, aku tak bermaksud menulis tentang ini. Hanya saja, ketika membaca tulisan seorang kawan dengan tema yang “menarik” ini, tiba-tiba aku tak bisa melawan godaan untuk menulisnya. Kebetulan ada faktor pendukung lain, suasana hatiku memang sedang merona merah belakangan. Jika wajah bisa merona merah darah saat malu, maka hati bisa merona merah muda kapan saja ketika asmara datang menyapa, hehe.

Bila harus diwujudkan dalam bentuk permisalan, mungkin hati ini layaknya air muka anak baru gede kemarin sore ketahuan gurunya menuliskan surat cinta, lalu diberdirikan di lapangan untuk membacakan isi surat yang amat pribadi itu lantang-lantang. Lihatlah! bagaimana kalutnya emosi sang remaja ketika euforia terhebatnya harus direcoki dengan malu, marah, kesal sekaligus takut. Begitulah ibaratnya.

Mari kembali pada laptop, eh salah, wanita cantik, hehe.

Dalam pengembaraan hidup, aku sudah banyak bertemu dengan wanita cantik. Mereka –para wanita- memang diciptakan dengan keindahan. Every woman has her own beauty. Ya, setiap wanita memiliki kecantikannya masing-masing. Kecantikan itu terletak dalam titik-titik berbeda dalam setiap wanita. Ada yang berupa pesona fisik, kecemerlangan ide, keanggunan pribadi, keunikan karakter, dlsb.

Perkara-perkara di atas bagiku termasuk kriteria “cantik”. Cantik –dalam otakku- sudah tidak lagi sekedar bermakna ortodoks, yaitu semua karakterisktik rupa seperti kulit putih, hidung mancung, bulu mata lentik, atau lainnya. Cantik dengan definisi paling akhir menurutku hanyalah dimensi terendah sebuah kecantikan, dimensi fisik. Sementara sebuah kecantikan –masih menurutku- memiliki dua dimensi lagi, intelektual dan emosional.

(Karena kecantikan adalah relatif, tentunya apa yang aku ungkapkan di sini adalah cantik dari sudut pandang subyektif seorang aku. Anda boleh-boleh saja tak sepakat dengan kriteriaku.Tapi jika Anda setuju, mari kita bersulang untuk itu! hehe.)

Kecantikan intelektual adalah bagaimana seorang wanita mampu mempesona dengan otaknya. Tapi, pesona intelektual itu bukan sekedar luasnya pengetahuan. Wanita akan terlihat cantik karena otaknya apabila keluasan wawasan juga didukung dengan orientasi kreatif dan jelas, namun tetap dalam koridor kewanitaan. Adalah penting bagi laki-laki untuk memiliki wanita yang tetap berorientasikan kewanitaan. Para lelaki menginginkan ibu untuk anak-anak mereka, pelengkap mereka, bukan rival yang selalu adu argumen dalam kehidupan berumah tangga.

Dimensi selanjutnya adalah kecantikan emosional. Dimensi ini bukan sekedar sikap murah hati, murah senyum dan rajin menabung (emangnya dasa darma, hehe). Tapi lebih pada sifat-sifat emosional yang mencerminkan kewanitaan. Bagaimana seorang wanita legowo atau memiliki jiwa besar, sabar dan tidak mudah begitu saja mengikuti perasaan dan yang lain coba tanya pada para wanita, karena merekalebih mengerti, hehe. Oia, dimensi emosional juga meliputi ranah spiritualitas. Meski dalam banyak versi sering dibedakan antara EQ (emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient), tapi aku lebih suka menggabungkannya. Karena berdasarkan penjelasan psikologis, ternyata spiritualitas termasuk kecerdasan intrapersonal yang bersama interpersonal membangun kecerdasan emosional secara komprehensif.

Demikianlah kriteria wanita cantik menurutku, hehe. Dari masing-masing dimensi ada kredit poin tersendiri. Dimensi pertama (fisik) memiliki kredit poin terendah, sementara dimensi kedua (intelektual) dan ketiga (emosional) berkredit poin seimbang sekaligus lebih tinggi dari dimensi pertama. Wanita yang cantik secara fisik saja belum bisa dijadikan prioritas untuk menjadi pasangan hidup. Karena jika kecantikan fisik yang dicari, sebentar kemudian Anda akan menyadari bahwa ada rumput tetangga yang lebih hijau.

Tidak mudah memang menjadi sosok yang ideal. Tapi aku menulis ini bukan untuk meminta wanita menjadi sempurna, namun lebih pada untuk membangun kesadaran bersama bahwa ada nilai kecantikan yang tidak melulu bersandar pada fisik.

Mengenai bagaimana menjadi pribadi yang diharapkan? Aku percaya setiap wanita memiliki rumus tersendiri. Mereka mengerti sepenuhnya bagaimana harus bertindak dan bersikap. Karena, ya, salah satunya itu tadi, mereka memiliki keindahannya masing-masing. Selain itu karena mereka telah dianugerahi Tuhan perasaan yang lebih lembut sehingga lebih peka bagaimana menjadi cantik. Tentunya mereka yang cerdas tidak hanya akan mengekplorasi kecantikan fisikal, namun juga mengerti bagaimana menjadi cantik secara intelektual dan emosional.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah” (al-Hadits)

Minggu, 18 Maret 2012

Perjuangan

Dulu sewaktu masih mondok, untuk memberi semangat kami, ustadz-ustadz seringkali menceritakan pengalaman seorang Ibnu Hajar al-‘Astqalani. Ternyata, di balik gelar al-Hafidz yang dimilikinya (julukan tertinggi kedua dalam disiplin ilmu hadis), beliau pernah mengalami masa-masa sulit belajar. Cerita beliau tak seperti kisah ulama kebanyakan yang digambarkan sangat cerdas karena mampu menghafal dengan tempo singkat di usia muda. Ibnu Hajar kabarnya pernah hendak putus asa dari kesulitan belajarnya.

Dalam perjalanan pulang dari madrasahnya, Ibnu Hajar tertegun menyaksikan batu yang berlubang karena tetesan terus-menerus dari air. Lalu beliau tersadar dengan satu hal, batu yang sedemikian kerasnya saja dapat berlubang karena tetesan air, pastilah otak kita juga mampu mencerna pelajaran sesulit apapun. Tentunya dengan usaha keras terus-menerus seperti tetesan air yang tiada berhenti.

Waktu SD, di pelajaran Fisika, aku dikenalkan guruku dengan nama Thomas Alva Edison, penemu lampu pijar. Dibalik penemuan hebatnya tersimpan cerita lebih hebat. Edison gagal berkali-kali. Baru pada percobaan ke 1000 dia berhasil. Catat hal ini, seribu kali!

Lalu beberapa waktu lalu, aku menemukan orang semodel dua contoh diatas di kehidupan nyataku. Aku bertemu dengan seorang penulis yang menghasilkan satu buku setiap tahun, kebetulan seniorku. Dalam waktu 5 tahun dia sudah menghasilkan 5 buku. Yang fenomenal, salah satu bukunya diangkat menjadi film oleh salah satu rumah produksi tanah air. Sudah tayang Oktober tahun lalu.

Kami sempat ngobrol santai seputar masalah perbukuan. Waktu itu aku ingin tahu banyak hal tentang dunia ini. Aku ingin mendengar langsung dari seorang yang sudah terjun berjibaku di dalamnya. Banyak hal yang aku dapatkan dari beliau. Yang paling berkesan bagiku bukan pengalaman suka duka yang beliau alami, tapi dari beliau aku belajar tentang kekuatan tekad dan kerja keras. Kemudian aku menyimpulkan hasil analisa pribadiku, bahwa di dunia ini tak ada rintangan yang bias menghalangi sebuah konsistensi.

Sebenarnya konteksnya adalah aku sedang menyemangati diriku sendiri, sama dengan tujuan semua tulisan-tulisanku. Hingga kin,i bersama berjalannya waktu, selalu aku temukan kekurangan demi kekurangan baru yang terkadang membuatku berpikir “bisakah aku?” Tak bisa ku pungkiri kawan, terkadang aku tak yakin dengan kemampuanku sendiri. Seringkali aku meragukan diriku karena tak kunjung menemukan cara menuju apa yang aku anggap tujuan. Suatu ketika, dalam keragu-raguan yang sangat, aku mengeluh pada seorang kawan:

“Harus dengan cara apalagi aku memperjuangkan mimpiku?”

Kawanku menjawab:

“Apakah dengan berhenti akan membuatmu merasa lebih baik?”

Jawaban yang menghentak, sangat menohokku. Aku tahu bahwa diam hanya akan menyiksaku lebih kejam, karena aku tak pernah bisa berdamai dengan otakku yang terus menerus bermain dengan impian-impian liar. Lalu aku teringat kisah-kisah diatas, semuanya menunjukkan bahwa dibalik kesuksesan ada perjuangan hebat. Perjuangan yang mencapai taraf mencoba seribu kali. Perjuangan yang setingkat dengan usaha butir-butir air melubangi batu.

Rabu, 29 Februari 2012

We Are All Greats

Jika semua manusia diciptakan sama, lantas mengapa realita yang ada menunjukkan perbedaan dan kasta-kasta? Mengapa orang-orang selalu lebih baik dari kita?

Sebagai manusia yang diciptakan berhawa nafsu, pertanyaan diatas wajar muncul. Diakui atau tidak, kita semua selalu terintimidasi dengan hasil yang didapatkan orang lain. Terutama sekali jika hasil tersebut lebih baik dari pencapaian kita. Ini juga alamiah, karena kita memang diciptakan untuk selalu bersaing. Allah berfirman dalam Al Qur’an:

“Dan berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Al Baqarah:148)

Dan di ayat lain:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al Mulk:2)

Jadi, perasaan jengah dan terintimidasi akibat pencapaian orang lain adalah lumrah. Karena dalam jiwa kita telah tertanam semangat berkompetisi. Tinggal bagaimana menyelaraskan ego tersebut dengan kenyataan di lapangan.

Saatnya menjawab pertanyaan diatas. Jika semua manusia diciptakan sama, mengapa di dunia ini ada orang-orang hebat yang berhasil melakukan pekerjaan hebat? Sementara kita, yang katanya punya modal yang sama, seperti tak menemukan jalan menuju level tersebut. Mengapa orang-orang seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Einstein, Isaac Newton bisa sedemikian fenomenalnya? Apa rahasia mereka? Einstein punya jawaban sederhana untuk pertanyaan itu:

“Bukannya saya begitu pintarnya, saya hanya bertahan lebih lama menghadapi masalah.”

Sederhana bukan? Hanya aplikasinya yang tidak mudah. Benarlah pernyataan bahwa kita semua memiliki talenta yang setara. Tetapi hanya sedikit orang yang pada akhirnya bisa membuktikan bahwa Tuhan memberi mereka anugrah yang luar biasa. Anugrah Tuhan itu berupa bakat, dan tentunya semua yang berasal dari Tuhan selalu luar biasa. Mereka percaya dalam diri mereka terdapat potensi untuk menjadi luar biasa. Mereka lalu mempelajari hal-hal yang diperlukan untuk melakukan itu, bekerja keras dan gagal, introspeksi lalu mencoba lagi, demikianlah etos kerja mereka. Mereka sukses dan mendapatkan nama besar di dunia ini karena mereka pantas mendapatkannya setelah semua yang mereka lakukan. Dan Tuhan menjadikan mereka demikian sebagai permisalan bagi yang lainnya. Agar kita tahu bahwa untuk berhasil tidak cukup bersandarkan pada bakat, diperlukan kerja keras, ketekunan, serta kesabaran menjalani proses. Dari mereka juga kita belajar bahwa dunia ini memungkinkan kita mewujudkan impian-impian hebat kita.

Alangkah piciknya jika kita merasa minder dan kecil di hadapan orang-orang besar itu sebelum melakukan usaha semaksimal usaha mereka. Kita belum belajar setekun mereka, belum bekerja sekeras mereka, belum bertahan dengan masalah sekuat mereka, lalu mengklaim kesuksesan mereka karena modal lebih dari Tuhan? Seharusnya kita malu dengan potensi besar dalam diri kita sendiri, juga dengan perasaan kita sendiri yang tersiksa saat melihat pencapaian orang lain lebih baik. Rupanya, rasa malas membuat kita melakukan banyak dosa. Dzalim karena tidak memaksimalkan potensi diri, bohong terhadap diri sendiri karena menafikkan ego rasa jumawa, sombong karena tidak mau belajar dari permisalan yang sudah ada, dan yang perlu kita khawatirkan adalah kufur ni’mat, karena tak mensyukuri anugrah yang telah diberikan Allah. Ada lagi yang juga mengarah kepada kekufuran, dengan hanya berpangku tangan artinya kita tidak yakin dengan janji Tuhan bahwa Dia akan selalu menyertai dan membantu hamba-Nya. Astahgfirullahaladzim.

Tuhan sudah menjamin tidak akan memberikan hal yang tak bisa dikerjakan, masalah yang tak terselesaikan, rintangan yang tak bisa dilewati. Lantas, apa lagi yang menghalangi. Sungguh, penyebab stagnasi kita adalah kekerdilan jiwa kita sendiri.

Selasa, 14 Februari 2012

Future-Minded

“ Dari yang saya baca, tulisan kalian kebanyakan tentang past.” Begitu kata salah seorang staff KBRI mengenai tulisan-tulisan masisir.

Ada tiga macam manusia berdasarkan pola pikirnya. Past-minded, present-minded, dan future-minded. Orang-orang past-minded berkutat pada masalah-masalah masa lampau, mencari titik salah dan perbedaan, tapi mandeg dalam soal solusi. Manusia-manusia present minded sudah berkembang lebih baik menuju pengetahuan tentang kondisi terkini yang mumpuni. Tapi yang lebih baik tentu saja mereka yang future-minded, orang-orang berhaluan masa depan ini tidak hanya berorientasikan dengan rencana-rencana hebat tentang masa depan, mereka juga sebenarnya menguasai bidang past serta present. Yang membedakan adalah mereka, para future-minded, lebih terfokus kepada solusi daripada berkutat dalam masalah.

Pola pikir terbelakang memang selalu menjadi penghambat utama kemajuan seseorang atau komunitas. Dan dari pergerakan masisir, sepertinya kita harus khawatir dengan diri kita sendiri karena ciri-ciri past-minded terlalu banyak terlihat.

Contoh mudah, dari ribuan alumni Masisir sejak berpuluh-puluh tahun lalu telah pulang ke Indonesia, baru resmi tahun 2010 ada ikatan resmi alumni Al Azhar untuk saling bersinergi. Bandingkan dengan lulusan-lulusan barat yang bahkan sudah melakukan banyak program demi perbaikan Indonesia dengan cara yang mereka anggap benar, bahkan dengan jebolan universitas tanah airpun kita kalah langkah. Misalkan Harvard dengan Sri Mulyaninya. Yang lain, sebut saja ITB dengan para teknokratnya, satu nama dari komunitas ini adalah Aburizal Bakrie.

Sementara ini kita hanya bisa mengeluh geram menyaksikan kasus century yang tak kunjung usai, atau masalah lumpur Lapindo yang tak pernah jelas. Tapi dari semua itu, kita tidak bisa memungkiri fakta bahwa gerakan-gerakan politik, sosial dan ekonomi tanah air ( bahkan semua sisi kehidupan ) memang sudah berjalan sesuai conscience benar salah orang-orang yang bergerak lebih terorganisir. Salah satu pepatah yang kita kenal di dunia bahasa arab ini juga menegaskan hal itu.

Al haqqu bila nidzomin yaghlibuhu al bathil binodzomin

Kebenaran tanpa organisasi yang baik akan dikalahkan dengan kebatilan yang lebih terorganisir.

Contoh lain, ketika Mesir sedang kalut di tengah Revolusi, banyak dari kita yang gelagapan minta evakuasi. Dengan dramatisnya membesarkan kejadian-kejadian sehingga seolah-olah sudah amat kritis. Benar kata bapak A.M. Fakhir, Dubes periode lalu, saat menghadapi evakuasi. Redaksinya kurang lebih begini;

“ Disaat-saat kritis seharusnya kita tetap tenang dan bersikap dewasa. Jangan malah panik sehingga menimbulkan masalah baru.”

Ya, sepertinya otak kita terlalu terforsir pada masalah sehingga kehilangan fokus pada solusi. Karena itu, adalah lebih baik bagi kita untuk mulai merubah hal-hal kecil seperti itu karena ternyata itulah penyebab mendasar atas stagnasi pergerakan kita.

Merubah pola pikir tak melulu soal teori rumit yang mengharuskan kajian ilmiah. Sebenanya simple, hanya diperlukan kerelaan kita untuk lebih sabar, sabar yang aktif. Sabar dalam menghadapi tekanan akibat masalah yang datang, sabar untuk bertahan dalam kesulitan, dan yang paling penting adalah sabar untuk terus berjuang mencari solusi dari masalah dan mengusahakannya.

Selasa, 07 Februari 2012

Masa Muda

Hari kemarin pertama kalinya aku berkesempatan memegang bukuku. Buku itu baru sampai ke tanganku setelah seorang temanku menitipkan kepada santri yang Study Tour ke Mesir. Ada banyak kekecewaan mengetahui hasil kerja kerasku selama ini hanya sebuah buku tipis. Apalagi mendengar seorang teman berkomentar mengenai ini; buku alay ! Dan tak usah membicarakan berapa keuntungan dari buku itu sekarang. Karena aku menerbitkannya indie, dengan uang orang tua. Jangankan royalty, untuk menutup modal yang kukeluarkanpun masih jauh. Ongkos ngubek-ngubek Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, serta akomodasi-akomodasi lain masih terlalu tinggi untuk ditutupi. Bahkan aku tak mendapatkan uang yang cukup sebagai biaya print out dan fotokopi tulisanku untuk disebarkan ke penerbit-penerbit.

Begitulah, akan ada banyak kegagalan dan kekecewaan dalam hidup.

Lalu tadi pagi, aku chatting dengan kawan lama. Obrolan dengannya sedikit banyak memotivasi diriku. Dia menceritakan tentang bisnisnya yang sudah dia rintis dua tahun belakangan. Bisnisnya sederhana saja, boneka.

“ Alhamdulillah jalan.” Jawabnya ketika aku tanya bagaimana prospeknya. Mungkin dia sudah mendapatkan keuntungan, tapi dari jawabannya aku yakin semua itu masih jauh dari cukup.

“ Beginilah bro, masa-masa sekarang ini memang masa-masa gagal, masa-masa jatuh bangun, masa-masa kecewa.” Komentarku.

Ya, masa-masa sekarang, masa muda kita adalah saat untuk itu semua. Sekaranglah waktu kita untuk mencoba dan gagal lalu mencoba lagi. Inilah waktunya untuk jatuh lalu belajar bagaimana untuk bangun. Masa muda adalah saat-saat kita kecewa dan belajar membesarkan hati kita menghadapinya.

Karena sekarang atau nanti, kita harus mencoba. Dan kalau kita tidak segera mencobanya sekarang, kita harus mencobanya nanti dengan melewati proses yang sama. Sekarang atau nanti, kita akan gagal, maka alangkah lebih mudahnya bila kita gagal sekarang, karena belum terlalu banyak resiko yang dipertaruhkan dan belum terlalu banyak tanggungjawab. Sekarang atau nanti kita harus bersikap dewasa, dan tak ada ruginya berlatih dewasa dari sekarang. Terkadang kita terlalu takut untuk menjadi bijaksana karena merasa belum waktunya. Kita berpikir inilah masa muda yang harus dinikmati. Seperti akan ada yang hilang dari kebahagiaan kita jika kita bersikap bijak. Padahal sebaliknya, kita akan lebih bahagia dan lebih menikmati hidup jika kita bijaksana. Karena sekarang atau nanti kita tetap harus sukses, mari kita mulai prosesnya dari sekarang.

Persinggahan Mimpi

Mungkin aku belum mencapai titik kematangan seperti yang selalu aku impikan akan seorang aku. Prestasi akademisku tak selalu nomor satu, harus aku akui fakta bahwa selalu ada orang-orang yang lebih cerdas dariku. Intelektualitasku juga tak bisa terlalu aku andalkan, terlalu banyak momen dimana aku terlihat seperti orang bodoh. Beberapa targetkupun meleset dari yang seharusnya. Tak ada tanah bersalju eropa yang kunantikan dinginnya. Tanpa weekend ke menara Eiffel lalu berfoto ria disana, atau tidak juga melenggang bersama backpack untuk tidur di taman kota Madrid kala musim panas datang.

Sebenarnya duniaku sekarang adalah alam aneh di khayalan kanak-kanakku. Tak pernah terbersitpun di imajinasi masa kecilku akan berkutat dengan ayat-ayat Tuhan. Mempelajari kasus-kasus theologis serta hukum positif religi. Dahulu di otakku hal-hal seperti ini seperti ditakdirkan untuk lelaki-lelaki shalih bersorban macam pak Saliman. Walaupun aku pandai membaca Al- Qur’an dan tak pernah dapat nilai kurang dari 8 di pelajaran Agama waktu SD, tapi alam ide ku sudah lebih dulu familiar dengan Sir Isaac Newton, Albert Einstein, Thomas Alva Edison, serta yang paling gampang diingat adalah sang penemu telpon Alexander Graham Bell.

Dari kecil aku sudah sadar bahwa duniaku akan lebih luas dari rumah panggung kayu beratap seng. Dengan sumur timba di belakangnya yang airnya hanya dipakai untuk minum dan memasak jika musim kemarau tiba. Sementara untuk mandi, harus naik turun bukit menuju sungai. Aku tahu bahwa jalananku kelak bukan hanya jalanan koral bersiram aspal tipis yang akan membuat telapak kaki melepuh saat harus berlari. Bukan pula tanah lempung di kebun-kebun yang licin minta ampun jika hujan mengguyur. Kaki-kaki jenjangku akan menapak jalanan yang lebar, berlajur-lajur, penuh dengan kendaraan bermotor. Suatu saat yang dekat di masa depan. Aku sendiri tak tahu mengapa aku begitu imajinatoris dan merasa seolah-olah mimpi adalah esok hari saja, sangat dekat dan tinggal menunggu matahari terbit. Sepertinya baru kemarin aku menyusuri jalanan becek london dengan menggenakan topi koboy dan jas setinggi lutut, dan esok aku akan kesana lagi.



Tapi, sama sekali bukan menara-menara masjid Kairo yang berseliweran di otakku. Bukan teks teks berbahasa arab yang waktu itu nampak di terawangan persepsiku tentang buku-buku di meja belajarku. Dulu, aku mengkhayal diriku adalah professor fisika yang meneliti tumbuh kembang kosmos serta teori-teori astronomi. Bintang-bintang dan galaxy baru, atau meneliti besarnya gaya pada titik pusat black hole.

Dan ketika Tuhan menghantarkanku kesini, aku sadar bahwa inilah jalanku. Ini adalah persinggahan mimpiku. Aku harus melewati proses ini meskipun mimpi-mimpiku yang dulu belum pudar seutuhnya. Aku harus tetap menjadi seperti impianku, seorang professor fisika. Yang di alam nyata ternyata lebih hebat karena menguasai dalil dalil Qur’an dan sunnah. Memahami qodhoya-qodhoya Kalam yang membuat penelitian ilmiahku nanti punya orientasi suci, untuk mengesakan Allah.

Ternyata Allah memberikan kenyataan yang jauh lebih liar dari imajinasi kita. Dan sungguh Allah maha besar karena rahmatnya pula dia memuliakanku dengan menjadikanku sebagai seorang yang mutafaqqih fiddin. Karena bila Allah menginginkan kebaikan pada seseorang, maka Dia akan menjadikannya intelek dalam hal agama. Begitu kata hadist.

Maka kini, segala apapun yang ada pada diriku tak akan kusesali. Karena Tuhan punya rencana tak teraba tentang diri kita. Dan yang kita perlukan hanyalah mengikuti skenarionya, melakukan yang terbaik.

Senin, 30 Januari 2012

Curhat Colongan

Malam ini hawa kembali mendingin, setelah beberapa hari ini cuaca sempat menghangat. Aku menyusuri beceknya jalanan Kairo dengan seabrek uneg-uneg yang membebani kepala. Pikiranku tak bisa lepas. Banyak hal yang meminta untuk diperhatikan dan tak sudi diacuhkan sedetik saja. Hari-hari ini, aku tidak bisa tenang. Seperti ada malaikat maut yang mengejar, dan menerkamku jika aku berhenti sedikit saja. Semoga nafasku masih kuat untuk diajak berlari.



Tugas-tugas rutinitas, to do lists, self-progress, dan bermacam pekerjaan antri dengan tidak tertib di otakku. Saling menyela giliran saat yang lain lengah, dan ini membuatku semakin bingung saja. Mataku harus terbelalak terus mengawasi sepak terjang mereka, jangan sampai ada yang terlewatkan.



Bagi orang moody sepertiku. Sangat sulit untuk bekerja dengan teratur. Aku terbiasa nyaman untuk bekerja dengan schedule random sesuai irama hati. Kalau sedang ingin rajin ya rajin, dan kalau malas ya tinggal bilang masa bodo. Menghabiskan hari di surga kasur, bertemankan bantal dan selimut tebal. Apalagi musim dingin begini, Indah.



Tapi kawan, sepertinya berjalannya waktu menuntut kita untuk selalu berubah menjadi lebih baik. Karena kalau tidak, kita tak ubahnya pedagang yang merugi karena tak bisa memanfaatkan kesempatan lebih untuk memperbaiki. Rosulullah pun menggambarkan demikian dalam hadistnya;

“Barangsiapa amalnya hari ini lebih baik dari hari kemarin maka orang itu termasuk yang beruntung. Dan barangsiapa yang amalnya sama dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang rugi. Dan barangsiapa yang amalnya lebih buruk dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang terlaknat”. (H.R. al-Hakim).



Dan lagi, aku menyadari bahwa setiap hari perawakan fisikku semakin jauh dari kesan anak-anak. Aku berubah dari seorang anak menjadi lelaki yang menginjak dewasa. Seharusnyalah memantaskan kepribadian dan sikap dengan sesuatu yang lebih dewasa.



Kini, beberapa helai uban sudah menyembul diantara rambutku. Beberapa tahun lagi, akan semakin banyak dan semakin banyak. Tak ada tombol ‘pause’ dalam perjalanan hidup. Jika kita tidak berbenah, kita akan dibuat malu oleh kenyataan diri kita sendiri.



Maka kawan, waktunya sudah tiba untuk merubah hal-hal mendasar dalam diri kita. Memperbaiki remeh temeh yang selama ini menjadi penyebab prinsipil atas kegagalan kegagaln kita. Mengganti detail-detail kecil dengan sesuatu yang lebih baik. Melakukan sesuatu dengan lebih terorganisir dan rapi.



Selebihnya, bila kita lelah, tak perlu merasa bersalah atas keletihan itu. Tak usah mengutuki kegelisahan kita atas problematika yang datang. Karena rasa gelisah itu menandakan bahwa kita menolak untuk menyerah.



Saat merasa lelah, bersyukurlah ! Karena kini kita punya alasan ketika mengadu pada Tuhan bahwa kita telah melakukan sesuatu. Saat kita bingung dan pusing, bersyukurlah karena artinya kita sudah menggunakan otak untuk berpikir. Mencoba memecahkan masalah demi masalah yang datang. Dan tak pernah menyerah dengan keadaan.



Tetap tenanglah ! tarik nafas dalam-dalam dan sebutlah namaNya yang maha Agung dalam hati. Karena Dia akan datang dengan bantuan bantuan ghaibNya di setiap langkah kita. Mengutus malaikat-malaikatNya dan menciptakan keajaiban-keajaiban. Membuat hal-hal yang terlihat mustahil menjadi mungkin, membuat hal-hal kecil menjadi luar biasa, seperti biasanya. Karena Allah tak akan meninggalkan hambaNya yang selalu berusaha dan menyerahkan segala urusan kepadaNya.

Rabu, 25 Januari 2012

Fokus


Hari-hari ujian baru saja usai. Setelah sebulan lebih ‘menekan nafas’ akhirnya tiba saat untuk barang sejenak bernafas seperti biasanya. Bukannya mengistirahatkan otak, tetapi mengalihkan fokus otak pada hal lain. Karena faktanya (kata temanku), otak kita tak pernah berhenti bekerja. Bahkan saat kita tidur otak kita masih saja berpetualang dalam dunia bawah sadar. Pergi ke tempat-tempat yang tak memungkinkan dikunjungi di alam nyata, menyampaikan pesan-pesan yang di kehidupan sebenarnya tersembunyi oleh kekeluan lidah, serta melakukan hal-hal yang di secara realistisnya terkekang oleh batas-batas realita dan fakta.

Aku kembali membuka lembaran-lembaran yang karena ujian terpaksa ‘dipinggirkan’. Seraya mengajak otak untuk berpindah haluan. Menguak memori-memori usang untuk kembali dirangkai.

Tapi, sepertinya ada yang tersisa dari ujian untuk direnungkan. Ada yang perlu digarisbawahi dari momen yang selalu terlihat seperti momok mengerikan itu. Ada hal yang perlu diikat agar tak terbang begitu saja.

Kita sadari atau tidak, betapa ujian telah sukses membuat otak kita fokus. Qodhoya-qodhoya mantiq yang di hari biasa sepertinya tidak mungkin untuk dimengerti, toh bisa juga diatasi, tanpa perlu pembimbing pula. Tebalnya kertas-kertas kusam buku fiqh yang di luar ujian selalu mengundang rasa kantuk akhirnya terbaca semua. Begitu halnya dengan pelajaran-pelajaran yang lain. That’s all settled, meskipun hasilnya wallahu a’lam.

Ternyata, dengan fokus, kita bisa melakukan sesuatu yang sepertinya mustahil.

Selama ini, kita terlalu membiarkan otak kita berkeliaran kemana-mana. Kita melakukan banyak hal, tapi tanpa disertai dengan otak dan hati yang tak tahu juntrungannya sedang dimana. Kita belajar, tapi fokus kita ada pada pertandingan bola nanti malam. Kita diskusi, tapi konsentrasi kita masih tertinggal di jawazat karena besok pagi harus secepat mungkin kesana. Kita kuliah, tapi hati kita sedang meratapi kepergian orang yang kita cintai. Well, hasil dari semua itu bisa kita lihat sendiri, terlalu banyak waktu kita yang terbuang sia-sia. Tak ada produktifitas.

Sebenarnya dengan fokus, tak ada yang berkurang dari kebahagiaan kita. Seperti saat ujian kemarin. Kita masih bisa makan 3 kali sehari, tidur 8 jam sehari, masih bisa mendengarkan lagu-lagu kesayangan, bahkan masih bisa menghabiskan beberapa judul film. Intinya, saat fokuspun kita masih bisa menikmati kegiatan-kegiatan santai tanpa berkurang kuantitasnya. Bahkan dengan kualitas yang lebih baik.

Huft, aku masih belum terlalu fokus sehingga kebingungan bagaimana untuk mengakhiri catatan ini, haha. Intinya, karena fokus tidak mengurangi kebahagiaan kita dan bahkan mampu membuat kita melewati melakukan hal-hal luar biasa. Marilah kita biasakan untuk selalu fokus dalam semua tindak tanduk kita, semua langkah kita.

Senin, 26 Desember 2011

Pahlawan Tangkas, Buku pertamaku



“Minggir! Awas, kena bola!” Kemudian sisa-sisa pecinta bulu tangkis pun benar-benar minggir, benar-benar ke pinggir sampai di rel kereta api dan bermain di sana. Untuk selanjutnya berlari tunggang langgang menyelamatkan diri jika datang sang pemilik jalan, kereta api. Tanpa sempat menyelamatkan kok yang jatuh di tengah rel, dan mendapatinya sudah hancur ketika kereta sudah berlalu. Tak ada salahnya bermain bola, namun kita harus tetap menghargai bulu tangkis. Mempertahankan kejayaannya. Jangan sampai kita seperti layaknya pepatah: mengharapkan hujan turun, air di tempayan ditumpahkan.

Bagi yang berminat, ini link situs untuk pemesanan
http://www.leutikaprio.com/produk/10041/novel/1112384/pahlawan_tangkas/11102490/kurniawan_saputra

Rabu, 14 Desember 2011

Menyebarkan Kebaikan

“ Kamu masih menulis kan?” tanya seorang teman.



Haha, tentu saja, menulis adalah caraku untuk hidup selain makan dan minum, batinku. Entah kenapa semenjak aku sering menulis aku merasa semakin hari menjadi semakin baik. Alhamdulillah untuk ini dan terimakasih untuk orang-orang yang membantu. Dari tulisanku aku menemukan orang-orang yang memiliki semangat yang sama maka aku merasa satu perjuangan dan tidak sendiri di dunia ini. Aku juga mendapatkan suplai semangat tambahan dari komentar-komentar mereka yang inspiratif. Dari menulis aku merasa berharga dan hidup.



Sungguh, manusia tidak selalu bisa menjadi baik. Dan tidak selamanya bisa memotivasi dirinya sendiri. Ada kalanya sisi buruknya lebih dominan. Sehingga, adalah kewajiban kita sebagai manusia untuk saling mengingatkan yang lainnya bila lalai.



Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran ( Al Ashr 1-4)



Dalam ayat diatas disebutkan bahwa kita harus saling nasehat menasehati dalam kebaikan.



Manusia memiliki nurani yang secara naluriah dari Tuhan selalu baik. Sehingga setiap orang dari kita, seburuk apapun, pasti memiliki sisi baik. Kebaikan tersebut bermacam-macam. Beragam bentuk di setiap orang. Di sisi lain, manusia juga punya hawa nafsu yang selalu membisikkan kejahatan di setiap detak nadi. Karenanya pula manusia, sebaik apapun, mempunyai sisi buruk dan bentuknyapun berbeda dalam satu manusia dengan manusia yang lain. Percampuran antara kebaikan dan keburukan itulah yang membentuk pribadi seseorang. Dan pertarungan sisi baik dan buruk itu yang menyebabkan ketidakonsistenan pikiran, emosi, dan tindakan kita.



Allah swt berfirman dalam Al Qur’an yang artinya;



Kalian adalah sebaik-baik umat yang di lahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah.” (ali imran: 110)



Karenanya, aku ingin selalu menulis. Mengungkapkan apa adanya diriku. Baik buruknya, semuanya. Agar dipetik manfaatnya bila baik, sekaligus agar diingatkan dan diperbaiki bila salah. Banyak dari kita yang terlalu takut untuk itu. Kita memiliki kebaikan namun menyimpannya untuk diri sendiri, membiarkan orang lain bekerja keras menemukan cara berhasilnya sendiri. Padahal, bukankah dengan saling berbagi kita akan lebih mudah menuju keberhasilan yang sama.

Semua orang punya cerita keberhasilan. Semua orang punya karakter unik. Mengapa tidak kita eksplorasi hal itu? Bukankah manfaatnya akan lebih besar bila diketahui lebih banyak orang, diteladani kemudian ditiru. Bukankah kita akan mendapatkan amal jariyah dari perbuatan baik yang kita tanam?



Ada yang berpendapat bahwa mengabarkan yang baik-baik dari diri sendiri adalah riya, benih kecil syirik yang dosanya tak terampuni. Mungkin paradigma ini yang membuat banyak orang lebih memilih diam atau berkata;



“ Ah, ana ga bisa apa-apa ko.” Ketika ditanya rahasia keberhasilannya. Bukankah akan lebih baik bila jawabannya adalah;



“ Allah memerintahkan kita untuk bekerja keras, istiqomah, dengan lebih dahulu memperbaiki niat.”



Hati kita adalah sepenuhnya milikNya, Allahlah yang lebih tahu apa yang kita niatkan dan terbersit di hati kita. Maka berbagi kebaikan tak selamanya mengarah kepada riya, karena Allah swt juga berfirman yang artinya;



Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya ( Ad Dhuha 11)



Untuk itu, marilah kita mempercerdas niat demi manfaat yang lebih besar.

Galau

Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.



Kali ini aku tidak sedang menyitir quote-quote orang hebat. Kalimat diatas hanya kalimat yang sering diucapkan oleh Pat Kay, kakak kedua dari rombongan para pencari kitab suci ke barat, dalam cerita masyhur legenda agama Budha. Kemungkinan edisi filmnya sudah mendapatkan ‘intervensi’ penulis skenario atau sutradara sehingga kalimat diatas hadir begitu sering.



Well guys, im gonna talk about love. Are you interested in?



Sering aku mendengarkan cerita cinta teman-temanku, dalam hal ini mereka yang bermain hati di luar nikah. Entah itu pacaran, TTM, hubungan tanpa status, LDR ( kalau kata raditya dika Long D*** Reduction), dan status status tak resmi lainnya.



Kebanyakan (sebenarnya aku ingin menulis semuanya) cerita itu berakhir sad ending. Bahkan prosesnyapun rumit, berbelit, melelahkan, penuh lika-liku. Ko kayak jalan ya? Hehe. Memilukan, menyedihkan, mengenaskan, dan yang paling pasti, penuh kegalauan. Anyway, aku cuma ingin bilang kalau hubungan seperti itu lebih banyak sisi negatifnya.



“ Kalau melihat kegalauan mereka yang berpacaran, rasanya aku bersyukur menjadi jomblo.” Komentar seorang jombloer melihat nasib mereka, orang orang yang mengatasnamakan pejuang cinta, yang ibarat orang sekarat, hidup segan mati tak mau.



Im not saint, aku tak sedang menghakimi mereka yang terjebak dalam labirin perasaan. Aku juga pernah merasakan peliknya polemik hati. Beberapa kali aku dikecewakan orang. Ketika mengalami hal tersebut, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia ini. And life seems like has no justice anymore. But, tak usah terlalu mendramatisir, everybody’s hurt. Ada kalanya hal-hal demikian terjadi tanpa ada niatan dari masing-masing pihak untuk menyakiti. Akupun yakin ada kalanya aku atau sikapku menyakiti hati orang lain, meskipun aku mungkin tak sadar melakukan hal itu.



Namun, setelah beberapa kali mengalami demikian, juga dengan melihat pengalaman teman-teman. Marilah kita kembali pada logika agama dalam hal ini. Islam, sebagai agama rahmatan lil’alamin sudah memberikan jawaban atas setiap persoalan dunia. Dan jawaban islam untuk kasus ini adalah menikah.



Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah maka nikahlah, karena ia lebih dapat membuatmu menahan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa tidak mampu menikah maka berpuasalah, karena hal itu baginya adalah pelemah syahwat.´(HR. Bukhari dan Muslim)



Yang aku simpulkan bahwa memang apa yang ditawarkan islam untuk hubungan pria-wanita adalah bentuk terbaik. Memang tak selayaknya kedua belah pihak berhubungan dengan nama apapun di luar ikatan resmi, yaitu menikah. Diluar nikah, seseorang melampiaskan perasaannya dalam batasan yang abu-abu, tidak jelas. Batasan itu terkadang tanpa disadari mereka langgar karena keterikatan batin. Bersamaan dengan berjalannya waktu, keterkaitan perasaan dan saling ketergantungan itu semakin dalam hingga membuat batasan batasan tadi semakin hari semakin samar dan tak berarti. Dan ketika batasan batasan itu dilanggar, kita sudah masuk dalam muqaddimah zina, salah satu dosa besar. Naudzubillah min dzalik.



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim).



Pacaran atau apapun itu yang merupakan hubungan saling bertautnya hati dalam ikatan tak resmi hanyalah pelampiasan nafsu dari ketidakmampuan seseorang untuk bertanggungjawab atas cintanya. Karena jika kita sudah mampu, seharusnyalah menikah. Namun bila belum mampu, berpuasa akan menjadi pelindung terbaik. Serta jagalah pergaulan kita dengan tidak membiarkan kita jatuh kedalam keterkaitan perasaan yang akan selalu dalam.

Selasa, 27 September 2011

Keep Kicking !

Saya melihat ada kemiripan antara hidup dengan bermain sepakbola. Seperti sepakbola yang memiliki rumus besar “bola itu bundar” dalam artian kita tak pernah bisa memastikan hasil akhir sebuah pertandingan, hiduppun seperti itu, penuh dengan kejutan.
Terkadang kita mendapati fakta aneh bahwa perjalanan kita begitu berbeda dari perencanaan-perencanaan kita sebelumnya. Terjadi kebetulan kebetulan yang sebetulnya tidak terjadi karena kebetulan. Tetapi merupakan efek domino dari hal hal kecil yang terjadi di luar rencana kita. Itulah campur tangan Allah. Itulah sunnatullah.
Allah swt berfirman;
“ Dan tidak ada musibah yang terjadi di muka bumi, tidak pula yang terjadi atas diri kalian, kecuali sudah tertulis dalam kitab”
Seperti permainan sepakbola, seorang pemain terkadang tak menyangka akan bisa menyarangkan gol ke gawang. Tapi ketika datang bola muntah tepat di kakinya ketika gawang kosong, ia akan belajar mengerti bahwa dalam bermain ia hanya perlu terus bergerak mencari ruang kosong.
Pun begitu dalam hidup, kita tak pernah tahu keberuntungan apa yang akan kita dapat di masa depan. Kita benar benar tidak tahu. Karena semua itu tertutupi oleh kungkungan misteri waktu. Dan Allah tidak akan membuka tabir misteri ghaib itu kecuali sedikit saja. Dengan sebagian besar tetap tidak bisa kita raba.
Seperti yang tersurat dalam firman Allah;
“Dan kalian tidak diberi pengetahuan (tentang hal ghaib) kecuali sedikit saja.”
Dengan ketidaktahuan kita itu, ternyata kita hanya perlu melakukan hal yang sederhana, sangat sederhana. Terus berjalan di jalan kita meski tertatih, terus berusaha melakukan yang terbaik meski berat, terus membuat kemungkinan kemungkinan baru meski sepertinya mustahil. Mudahnya, kita hanya perlu untuk berusaha dan mencoba.
Allah swt berfirman dalam ayat lain yang artinya;
“Sesungguhnya manusia tidak memiliki apa-apa kecuali usahanya, dan sesungguhnya (hasil) usahanya akan diperlihatkan.”
Mencoba sebenarnya adalah usaha untuk membuka tabir misteri takdir yang dikungkung sang waktu. Dengan mencoba, kita akan mengetahui apakah usaha kita gagal atau berhasil. Jikapun gagal, kita menjadi lebih mengerti mengapa kita gagal dan semakin dekat dengan keberhasilan. Tanpa mencoba, kita tidak akan pernah berhasil. Karena selamanya takdir kita akan tertutup tabir ghaib.
Selamanya orang tidak akan bisa menjelaskan bagaimana takdir itu. Namun karena sama-sama tidak bisa ditebak, bagi saya takdir ibarat sebuah bola. Kita tidak pernah tahu pasti kemana arahnya, namun kita hanya perlu menggerakkannya ke arah yang kita inginkan. Dan jadilah rumus sederhana untuk menjalankan hidup ini, kita hanya perlu menendang bola kita. All we need is just to keep kicking !
Lalu biarlah hal hal lain memainkan peran dalam hidup kita. Biarlah Allah memberikan kejutan kejutan hebatNya.

Sabtu, 30 Juli 2011

Cintaku, Prinsipku

Pyuh, akhirnya kuhempaskan badanku pada kursi bus. Setelah berjalan lumayan jauh dari rumahku di daerah Saqor menuju pertigaan mutsallast, berdiri sekitar 15 menit menunggu bus, rasanya kaki ini berhak untuk diistirahatkan barang sebentar. Dan lagi pundak dan punggung inipun ingin sejenak melepas beban berat tas punggungku.



Pukul 13.45, jarum di jam tanganku menunjukkan waktu saat ini. Siang ini cuacanya lumayan sejuk untuk ukuran musim panas, 38 derajat celcius. Dengan rata-rata suhu beberapa hari ini berkisar di angka 39,40,41,42 derajat celcius. Hari ini adalah hari terdingin. Mungkin karena musim panas akan segera menghilang. Namun tetap saja panas, apalagi di dalam kotak besi rongsok bermesin ini. Sifat konduktifitas besi membuat panas terkonsentrasi dalam bus ini. Ditambah dengan panas tubuh yang dikeluarkan dari 30 sosok manusia di bus mini ini. Pengap adalah hasil akhirnya.



Kuhela nafasku dalam-dalam tanda puas setelah berhasil memenangi perebutan sebuah kursi panas dengan para sainganku, tubuh-tubuh tambun pria mesir. Kalian boleh lebih kekar, tapi kali ini aku lebih gesit, batinku.



Kutoleh kesamping kanan, di sebelah jendela bus seorang pemuda mesir terlihat asyik mengayun ayun kan kepalanya. Headset besar yang menutupi telinganya mungkin telah membuatnya tak sadar. Suara paraunya terlalu keras dan amat buruk untuk dinikmati.



I want it that way, lagu hit Backstreet Boys. Hmm, globalisasi memang telah merasuk ke semua sendi kehidupan di daerah manapun di muka bumi ini. Tak terkecuali Mesir, negeri yang diklaim pribuminya sebagai Ummuddunya, ibu bagi peradaban-peradaban dunia. Di satu sisi lantunan ayat suci Al Qur’an masih banyak terdengar di toko-toko, masjid-masjid masih lumayan ramai jika dibandingkan dengan suasana surau-surau di Indonesia. Namun disisi lain, lagu-lagu musisi barat mulai menggantikan posisi lantunan ayat qur’an dalam playlist-playlist mp3 pemuda-pemudi. Modis pakaianpun ikut terwarnai. Meskipun sebagian besar kaum wanita masih berjilbab, tapi sebagian besar pula pemudi mengenakan baju yang modifikasinya menunjukkan lekuk tubuh mereka. Sementara baju lebar khas mesir semakin sedikit pemakainya, semakin terkhusus bagi ibu-ibu yang berusia lanjut. Inilah yang terjadi di Kairo, miris.



Saat kutolehkan kepalaku kesebelah kiri, seorang wanita asia tampak berdiri menghadap ke depan. Sepertinya aku kenal,



“ Elisya!” teriakku spontan setelah memastikan bahwa wanita itu adalah orang yang kumaksud. Wanita itupun menoleh, meskipun bercadar, aku bisa melihat matanya menyipit tanda ia tersenyum dan berucap:



“ Salamualaikum Akh!”



“ Waalaiksalam,” jawabku. Jiwa kelaki-lakianku membuatku merelakan tempat dudukku yang nyaman itu.



“ Tafaddhol [1]Lis, duduk aja!”



Wanita itu adalah Elisya Wardah, teman satu kelasku dulu di pondok An Nur, di pedalaman jawa tengah. Dahulu kami adalah rival, posisi terbaik di marhalah selalu menjadi giliran. Terkadang aku, kali lain dia. Dan di akhir tahun ajaran, aku boleh berbangga karena akulah yang menjadi pemenang secara kumulatif.



“ Mau kemana lis?” tanyaku.



“ Ke Wisma Zal,” tumben dia memanggil namaku.



“ Excuse me?” aku ingin kembali mendengar namaku terlontar dari mulutnya.



“ Iya, ke wisma Rizal, nama kamu Rizal kan, Rizal Rahmatullah?” selorohnya diakhiri dengan tawa kecil.



Hahaha, akupun tertawa. Untuk beberapa saat kami larut dalam tawa itu. Bagiku ini lucu, sudah lama sekali ia tak memanggil ku dengan nama. Semenjak ia mengenakan cadar dua tahun belakangan, ia selalu memanggilku dengan sebutan Akhi.[2]



“ Mau ke Sosialisasi calon juga?” tanyaku mencoba meredakan suasana.



“ Iya, memangnya ada acara lain di Wisma?” jawabnya masih dalam suasana cair. Tak biasanya dia seperti ini.



“ Ukhti [3] kan aktifis wihdah[4], barangkali aja ada acara wihdah gitu,” jawabku sekenanya.



“ Ukhti? Semenjak kapan aku jadi saudara kamu?” kembali pertanyaan itu membuat kami tertawa sejenak.

Kamipun larut dalam obrolan selama perjalanan. Siang ini kutemukan sosok Elisya Wardah yang dulu. Sosok supel, cerdas, riang, dan pastinya charming. Kepribadian yang sempat membuatku menaruh hati padanya. Tapi itu cerita lama, kini aku telah menemukan kehidupanku. Akhirnya nampak gedung dengan reklame besar NSGB, menandakan kami harus turun.



“ Ala ganb yasthoh law samaht!”[5] teriakku.



“ Ahad nazil hina?” [6]sang sopir berusaha memastikan.



“ Ayyuah![7]” teriakku lagi, kali ini lebih keras. Dan mobilpun berhenti. Kamipun turun. Kali ini aku biarkan ia berjalan mendahuluiku, setelah sebelumnya mengucap salam. Aku harus lebih dahulu memeriksa isi tasku, ada beberapa dokumen penting yang harus dicek keberadaannya sebelum menginjakkan kakiku di gedung wisma nusantara. Alhamdulillah semuanya lengkap.



Akupun melangkah gontai, seakan tanpa beban.



Hey, mengapa aku seperti ini. Ada acara penting dihadapanku, aku harus serius.



Damn, aku tak bisa kabur dari euforia ini. Euforia kebahagiaan karena aku bisa kembali bersenda gurau dengan Elisya, meski sekejap. Euforia yang membawa kembali memori-memori indah masa lampau, cinta.



“ Nggak, nggak boleh! “ aku berguman sendirian. Aku tidak boleh kembali jatuh cinta kepadanya. Dia itu sekarang musuhmu zal, orang yang mungkin saja membencimu, meskipun tadi ia terseyum.



Tidak, tidak ada kalimat cinta lama bersemi kembali dalam kamus pribadiku.



@



Auditorium Wisma Nusantara sore itu nampak cerah. Cahaya putih lampu neon putih nampak serasi dengan warna dinding yang hijau muda. Meskipun cuaca musim panas sedikit mengganggu kenyamanan, membuat orang-orang yang berdandan perlente tak henti-hentinya mengusapkan tissue untuk menyeka peluh yang bercucuran.



Acara verifikasi calon presiden PPMI telah dimulai. Kini memasuki sepatah kata dari pemangku jabatan lama, saudara Amir. Kembali sifat curiosity ku membuatku memandang sekeliling.



Memang tak ada pemisah yang nyata, tapi kumpulan orang dalam ruangan ini terpisahkan oleh sebuah daris imajiner menjadi dua buah kubu.



Kubu pertama adalah orang-orang yang mengusung calon pertama. Dandanannya mudah dikenali. Jika laki-laki bercelana kain, potongan rambut pendek, dan sejumput janggut tipis yang menghiasi wajah-wajah penuh sahaja mereka. Kebanyakan berasal dari luar jawa.



Sejenak kulihat diriku sendiri, aku memang berjanggut, mengikuti sunnah Rosulullah untuk memeliharanya. Namun terkadang aku masih mengenakan jeans kebanggaanku. Jeans merk Lea yang merupakan produk dalam negri. Aku juga terkadang membiarkan rambutku tumbuh panjang tak berarturan.



Wanitanya berjilbab lebar, menutup rapi bagian termulia manusia, kepala, hingga terulur menutupi sebagian besar tubuh mereka. Dengan rok yang juga lebar. Sebagian mengenakan cadar. Dan jika berjalan menundukkan pandangan. Benar-benar memenuhi kriteria wanita sholihah yang kudambakan. Aku tak tahu ini untung atau buntung, Elisha Wardah adalah salah satu dari mereka.



Sementara kubu yang kedua lebih sekuler. Tidak nampak eksklusif dengan dandanan. Gaya berpakaian mereka macam-macam. Ada yang menjadi korban hair style dengan potongan rambut neko-neko, bahkan diwarnai. Yang menyatukan mereka adalah keadaan bahwa mereka bukanlah kubu yang pertama.



Dinamika organisasi masisir memang kelewat aktif. Memang konsekuensi logis dari system perkuliahan Al Azhar yang cenderung longgar. Sisi positifnya, militansi mahasiswa Indonesia boleh jadi semakin terasah. Kegiatan demi kegiatan yang datangsilih berganti membuat kami belajar banyak tentang etos kerja, kerjasama dan seni kepemimpinan. Sesuatu yang insyaallah akan berguna bagi nusa bangsa kelak.



Dilain sisi, perputaran yang amat dinamis tadi membawa efek negative. Dunia PPMI yang seharusnya hanyalah wadah persatuan pelajar, bertransformasi menjadi ladang percaturan politik. Menjadi semakin pragmatis dengan tujuan pangkat dan jabatan. Dan semakin sempit karena kini ada kubu kita dan kubu orang luar. Mahasiswa terpecah.



Kubu pertama tadi, adalah komunitas kader partai politik. Aku mencoba memandang dari perpektif mereka. Tujuannya bagus, mengislamkan semua nilai kehidupan, salah satunya politik. Selaras dengan konsep islamisasi ilmunya Naquib Al Attas. Mungkin bagi mereka, orang-orang sepertiku adalah preman-preman urakan berkedok mahasiswa yang mengacaukan tujuan mulia mereka.



Sementara kubu kedua, adalah aku dan konco-koncoku, kaum organisatoris. Menurut teman-temanku, sisi partai telah mengubah tujuan awal PPMI menjadi melenceng dan tidak obyektif. Itu juga membuat PPMI menjadi tidak efektif dan efisien, bahkan tumpul. Alasan lain untuk selalu melawan kubu pertama adalah, karena cara-cara yang dilakukan mereka kotor. Jauh dari nilai murni yang diagung-agungkan. Politik memang seperti itu, bagai lumpur yang kotor.



Mengapa aku disini? Aku hanya ingin bergerak. Menimba pengalaman sebagai tambahan diluar akademis. Keadaanlah yang mempertemukanku dengan teman-teman kelompokku. Soal politik, aku hanya ingin belajar. Karena aku yakin suatu saat aku akan jadi pemimpin besar.



Acara beranjak kepada verifikasi persyaratan calon.



Berkas-berkas milik kedua pasangan calon presiden telah diperiksa keabsahannya oleh panitia di hadapan audien. Lengkap, saat pemimpin siding hendak mengetuk palu menyatakan keabsahan kedua bakal calon pasangan presiden PPMI, inilah saatku beraksi seperti yang telah direncanakan sebelumnya.



“Interupsi, saudara pimpinan siding!” aku berdiri dari tempat dudukku.



“ Berdasarkan pengamatan saya, pasangan Yusuf dan Salman masih kurang persyaratannya. Setahu saya saudara Yusuf Ali masih menjabat sebagai menteri dalam cabinet PPMI tahun ini. Dan Saudara Yusuf belum menyertakan surat tanda pengunduran diri. Berarti pasangan Yusuf dan Salman tidak sah sebagai calon karena tidak memenuhi persyaratan.” Kataku dengan lugas.



“ Berdasarkan AD ART PPMI tentang persyaratan calon presiden-wapres pasal 15 ayat b menyatakan bahwa calon presiden tidak diperkenankan memangku jabatan lain dalam PPMI, Kekeluargaan, maupun organisasi afiliatif lainnya. “ lanjutku.



Hadirinpun kini tegang. Suara riuh rendah mulai terdengar. Aku tahu ini adalah pukulan yang amat menohok untuk kubu mereka. Kemudian setelah debat beberapa saat mengenai hal ini. setelah beberapa orang dari masing masing kubu berusaha menguatkan posisinya. Pimpinan siding memutuskan bahwa pasangan Yusuf-Salman tidak lolos verifikasi. Artinya kini hanya ada satu pasangan untuk pemilihan Presiden PPMI tahun ini, pasangan yang kami usung, Bambang-Satria. Ini juga berarti kemenangan untuk kubu kami tinggal di menunggu waktu.



Aku menghela nafas lega, tugasku terlaksana dengan sukses.



@



Sore itu nampak begitu indahnya, di depan gerbang Wisma aku memandang kea rah timur menyaksikan matahari yang malu-malu merona merah, pertanda ia minta undur diri dari siangnya. Sementara sang bulan telah muncul meski belum bersinar. Dunia memang indah, apalagi ketika kita sukses menjalankan misi.



Disekelilingku teman-teman tampak asyik ngobrol, tentu saja masih dalam tema kasus tadi. Mereka tampak sumringah,tiba-tiba;



“ Permisi!” seorang wanita menyela jalan. Kami tampaknya memenuhi ruangan di gerbang keluar.



“ Silakan!” jawabku spontan. Saat kulihat siapa yang menyela. Aku terkejut, itu Elisha.



“ Lis!” aku memanggilnya. Dia hanya menoleh kemudian membuang kembali mukanya. Dari tatapannya aku melihat raut kebencian di mukanya.



Hmm, aku bisa mengerti. Kini aku kembali menjadi sosok antagonis di hadapannya. Dan sepertinya ia akan kembali menutup hatinya dan bersikap dingin lagi kepadaku. Sepertinya kejadian di bus tadi akan sulit terulangi. Ah, seandainya Elisha mengetahui apa yang ada di pikiranku, alasan-alasanku untuk melakukan ini semua. Dan seandainya aku mengungkapkan isi hatiku selama ini. Aku yakin dia akan mengatakan ya untuk cintaku.



Namun, beginilah aku. Akan selalu keras kepala. Meskipun hatiku rapuh, namun egoku terlalu tinggi untuk mengalah. Aku tak perlu menjelaskan dan mengungkapkan apapun kepadanya atau siapapun juga. Karena aku akan selalu cinta dan setia kepada cinta terbesarku setelah Allah, Rasulullah, dan orang tuaku. Yaitu cinta kepada diriku sendiri dan prinsipku.





[1] Silakan! (Arab)



[2] Saudara (laki-laki)



[3] Saudari (perempuan)



[4] Organisasi kewanitaan di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir.



[5] Miggir (ungkapan amiyah mesir untuk menandakan bahwa kita hendak turun saat naik kendaraan)



[6] Ada yang mau turun?



[7] Ya