RSS
Semua orang hidup dalam tempurung, dan semua menganggap itulah alam semesta.
Tampilkan postingan dengan label Usul Usil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Usul Usil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

PPMI yang Bukan Keledai



Fakta pertama, organisasi pelajar adalah lembaga penunjang kesuksesan belajar. Fakta kedua, selama ini PPMI adalah karang penghalang Masisir yang ingin belajar di al-Azhar. Buktinya, ketika di al-Azhar ada peringatan maulid misalnya, PPMI malah mengadakan acara joget-joget. Saat ruwaq al-Azhar mengadakan daurah ilmiah, PPMI justru menyelenggarakan rentetan acara sepakbola, sepaktakraw dan sepak-sepak yang lain. Alhasil, Masisir terjebak dalam dilema antara hadir dalam halaqah-halaqah ilmiah atau meramaikan acara joget-joget dan sepak-sepak.

Maka, ketika PPMI tahun ini tak banyak bikin acara –yang namanya- bombastis seperti tahun-tahun sebelumnya, saya senang. Pasalnya PPMI menggantinya dengan kegiatan yang lebih penting dan subtansial: pengajian-pengajian dan silaturahim ke Masyayikh. Sebelumnya, PPMI –dan semua organisasi Masisir, kata teman saya Rendy adalah playgroup, semacam taman permainan kanak-kanak. Saya setuju karena organisasi di sini terlalu sibuk dengan tetek bengek kecil tetapi buta, tuli dan bisu dengan perkembangan dunia.

Sejujurnya, awalnya saya ragu dengan pengurus periode 2013-2014. Saya pikir, mereka akan seperti keledai yang kembali terperosok dalam lubang pendahulu-pendahulu mereka. Tetapi, keberhasilan PPMI mendatangkan mahasiswa baru di saat KBRI saja tak mau, mendalangi deklarasi bersama untuk Palestina, dan yang paling penting tentu saja mendekatkan Masisir ke al-Azhar, membuat saya mengacungkan jempol untuk PPMI tahun ini.

Tapi saya tidak sedang dibayar untuk memuji-muji pengurus yang sebentar lagi lengser. Ini sebenarnya jawaban bagi permintaan seorang teman, untuk berpartisimasi dalam kampanye dunia maya untuk salah satu calon presiden. Tentu saja saya tolak, saya –masih- tak mau terjebak dalam agenda politik praktis. Sebagai komunitas akademis, harus ada individu-individu di Masisir yang menjaga jarak dari pragmatisme kekuasaan. Agar tersisa orang-orang yang menyikapi setiap keadaan dengan jernih, adil dan mendasar tanpa hanyut dalam fanatisme partisan. Jadi, saya memilih memberikan masukan untuk siapa saja yang akan menyetir PPMI ke depan.

Ihwal pertama, teman-teman aktifis idealis yang suatu saat bakal jadi negarawan, kalian harus melanjutkan apa yang telah susah payah diusahakan pengurus tahun ini, relasi yang baik dengan al-Azhar. Karena mayoritas kita datang ke Mesir dengan al-Azhar sebagai tujuan. Maka, jika kalian kembali menghalangi Masisir dari al-Azhar seperti kesalahan orang-orang tua dulu maka kalian adalah keledai. Jika kalian menyelenggarakan terlalu banyak acara sepak-sepak dan joget-joget maka kalian mendisorientasi Masisir yang ingin belajar. Dan sesungguhnya menyesatkan anak-anak orang yang ingin belajar adalah dosa yang besar. Mengapa? Karena masa kuliah adalah momen yang sangat vital dalam membentuk masa depan mereka.

Ihwal kedua, kalian harus jadi seperti air memunyai kapilaritas, daya yang mampu meresap ke dalam apa saja. Menyatulah dan satukanlah setiap pihak. Kita ketahui bersama bahwa Masisir sudah lelah bermusuh-musuhan dengan teman sendiri. Masalahnya bukan cuma eksklusifnya golongan, tetapi keengganan masing-masing untuk mengulurkan tangan, merangkul untuk kemudian berjalan bersama-sama. Kita memang tak mau ada partai politik yang mencampuri dinamika kemahasiswaan, tetapi jangan pula sebuah golongan menjadi psudeo partai politik, berteriak-teriak anti partai tapi dinamikanya berjalan sama saja: penuh doktrin dan eksklusif.

Dua hal saja ya, karena apalah saya yang barangkali tahu apa-apa dinamika Masisir. Anggap saja ini salam perpisahan, sebentar lagi saya akan meninggalkan komunitas yang selama empat tahun ini telah membentuk saya. Saya yakin kalian adalah orang-orang berjiwa besar yang setiap saat sedia untuk mendengarkan masukan dan berusaha memperbaiki diri. Dua puluh tahunan lagi kita akan berjumpa dalam dinamika yang lebih besar, Indonesia.

Mengenai WIHDAH, saya tak berhak berkomentar. Dari jauh saya lihat mereka adalah anak-anak manis yang rajin berangkat kuliah. Di asrama mereka membaca buku dan tak banyak menghabiskan waktu nonton film korea.

Jumat, 27 Juni 2014

Tentang Masisir dan Relasi Kita yang Putus-Putus



Saya tidak tahu apakah Masisir memang buruk, setidaknya itu yang saya tangkap dari pendapat senior di lingkup komunitas kecil saya. Tetapi suatu ketika saya terhenyak ketika seorang kawan mengatakan ini, “Kamu, kan, tidak menjangkau seluruh aktifitas Masisir.” Ya, ada sangat banyak ragam aktifitas positif Masisir yang membuatnya tidak bisa digeneralisir sebagai komunitas buruk. Ada sekelompok orang rajin menghafal al-Qur’an, segelintir yang menekuni kaligrafi, belajar bahasa Arab, talaqqi, dlsb.

Kemudian, saya mencoba mencerna apa makna kata buruk yang senior saya bilang. Barangkali, karena ia kutu buku, ia bermaksud minimnya cendekia yang dapat berpikir secara ilmiah, berwawasan luas, dan dewasa secara intelektual di Masisir. Tetapi bukankah di setiap komunitas, bahkan dalam lembaga formal akademis, para intelek selalu jadi minoritas? Di kampus-kampus tanah air, selalu lebih banyak orang yang hobi pacaran dan demo daripada mereka yang gemar diskusi. Jadi, menghukumi Masisir sebagai sesuatu yang buruk hanya atas premis itu bagi saya adalah kesimpulan yang tidak bijaksana.

Saya lebih setuju dengan pernyataan seseorang di buletin kita: mari kita lihat Masisir sebagai potensi, bukan selamanya masalah. Masisir adalah cermin Indonesia dengan keragamannya, maka kegagalan memberi solusi atas permasalah Masisir adalah cermin ketidakmampuan kita menghadapi masyarakat Indonesia yang majemuk.

Belum lama ini saya mendengar opini yang sedikit berbeda. Pendapat ini lebih baik: banyak orang hebat di Masisir tetapi tidak ada yang membumi. Well, saya bertanya-tanya apa yang ia maksud dengan membumi. Selama ini yang saya pahami dari membumi adalah kerendahan hati.

Karena saya banyak menemukan Masisir yang tawaduk dan tidak sombong artinya ia tak menghendaki makna ini. Barangkali ia bermaksud tidak adanya sosok menonjol Masisir[1] yang dikenal luas oleh Masisir dari pelbagai kalangan, mahasiswa-mahasiswi, orang kuliahan-orang rumahan, akademisi-pebisnis, dll.

Yang ini saya setuju. Masisir, menurut saya, memang komunitas yang berjarak dan terputus satu sama lain. Ada banyak sekali komunitas yang dengan gengsinya mencoba menunjukkan hegemoni. Sialnya, justru keengganan untuk merendahkan gengsi masing-masing penyebab kegagalan mereka.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana itu bisa terjadi? Saya anggap menjawab pertanyaan ini penting untuk kita semua. Identifikasi masalah itu ibarat pekerjaan dokter mendiagnosa penyakit, ketepatannya sangat berguna, sebaliknya kesalahannya berakibat fatal. Sekarang saya coba menjawab pertanyaan itu dan silakan kalian jawab sendiri-sendiri.

1.      Kegagalan PPMI sebagai organisasi Induk

Saya melihat selama ini PPMI lebih berupa event organizer untuk kegiatan senang-senang. Lihat saja, kegiatannya kebanyakan berupa pentas seni. Sementara kegiatan yang lebih subtansial seperti keilmuan kurang digarap secara serius. Acara intelektual lebih banyak berupa seminar sehari dan tanpa aktifitas lanjutan yang jelas dan teratur. Saya perhatikan beberapa kepengurusan menganggap “mengadakan seminar ilmiah sehari” adalah pertanggungjawaban yang cukup untuk meningkatkan intelektualitas Masisir.

Tahun-tahun belakangan ini ada perkembangan positif. Ada kegiatan coffee break yang mempertemukan PPMI dengan Masisir. Saya pikir ini inovasi bagus dan perlu untuk membangun pemahaman bersama dan selanjutnya memprakarsai kegiatan yang terbangun atas mutual interest and mutual demand. Pula, Tahun ini ada usaha mendekatkan Masisir dengan al-Azhar, tentu saja ini positif karena sejatinya Masisir datang ke Mesir untuk belajar di al-Azhar. Selama ini, saya lihat aktifitas organisasi sering dianggap antitesis kegiatan keazharan, tentu saja ini perlu diubah.

Masalah lain adalah terpecahnya Masisir ke dalam kotak-kotak politis. Ini membuat dinamika Masisir tidak sehat. Masing-masing kelompok yang kalah secara politik tidak mau membaur dengan kalangan lainnya. Ini salah satu faktor keterputusan interaksi.

2.      Kegagalan Media 

Sebagai pegiat media, sebenarnya saya sedih menyatakan ini. Tetapi bahwa media Masisir tidak punya kemampuan kapilaritas adalah fakta. Media seharusnya mampu meresap ke setiap pori-pori kecil untuk kemudian membawa pengaruh. Nyatanya, berapa orang Masisir yang membaca Terobosan atau Informatika?

Apa lacur? Barangkali insan-insan media perlu lebih serius menggarap pekerjaan media. Namun hal ini juga disebabkan minat baca Masisir yang rendah. 

3.      Sistem Kuliah al-Azhar

Jika kuliah wajib, tentu fokus utama mahasiswa adalah kuliah, sehingga aktifitas luar kampus adalah hiburan yang akan dipenuhi antusiasme. Disiplin kuliah yang longgar membuat beragam kecenderungan, pikiran dan hobi seperti mendapat legitimasi untuk menjadi fokus utama. Akibatnya setiap orang memiliki dunia masing-masing yang tak mau diganggu gugat.

Sebenarnya saya ingin menulis bahwa KBRI juga berperan merawat Masisir untuk terus tumbuh sebagai komunitas individual. Tetapi karena ini bukan pekerjaan utama mereka jadi tak usah saya bahas panjang lebar.


[1] Istilah Masisir saya gunakan untuk dua maksud: 1. Komunitas Masyarakat Indonesia Mesir secara keseluruhan 2. Satuan Individu dari komunitas tersebut.

Selasa, 17 Juni 2014

Pilih Aktifitas Anda Sendiri!



Seleksi alam mengatakan, makhluk yang paling fleksibel beradaptasi adalah yang akan bertahan. Demikian pula Masisir.

“Masisir adalah lingkungan yang buruk!” pernyataan itu saya dengar dari senior saya. Saya sempat mengamini pendapat tersebut karena saya sendiri menemukan banyak orang sulit berkembang di sini –barangkali saya termasuk. Padahal, masa-masa S1 adalah saat untuk meningkatkan persona, terutama dalam bidang intelektual. Atas dasar itu, bagaimana memanfaatkan empat tahun ini–atau lebih bagi yang berkehendak- sangat krusial.

Mengapa demikian? Karena jika kita melewatkan empat tahun ini tanpa aktifitas yang mengatrol kualitas diri, kita akan dihadapkan dengan problema hidup yang semakin kompleks ketika lulus. Upaya peningkatan diri akan semakin sulit usai Lc, ketika tuntutan kemandirian finansial dan hasrat melankoli semakin mendesak. Jika tidak percaya, tanyalah senior-senior yang tengah dilanda kebimbangan mengenai kelanjutan studi mereka.

Maka, sebelum formalitas menyita mayoritas waktu sehingga melupakan apa yang lebih penting dilakukan. Ada baiknya kita –atau kalian- berpikir tentang beberapa hal.

1.        Kenali al-Azhar dan Mesir!

Siapa pun Anda, terlepas dari apa latar belakang dan motivasi yang mengantarkan Anda ke bumi Kinanah ini, al-Azhar adalah yang membuat Anda melangkah sejauh ini. Maka, segala sesuatu yang berkenaan dengan aktifitas harus menaruh al-Azhar sebagai pertimbangan utama. Untuk itu, sebelum mengambil langkah lebih jauh, kenali al-Azhar terlebih dahulu. Every your single decision must be based on what al-Azhar is, not what it’s not. Tanyakan kepada kyai-kyai, ustadz-ustadz, alumni, atau siapa dan apa saja yang dapat memberikan Anda pengetahuan yang utuh tentang al-Azhar.

Pengetahuan tentang Mesir juga penting. Bagaimana keadaan alamnya, karakter masyarakat, birokrasi, bahasa, adat dll. Karena akan berhubungan langsung dengan aktifitas kita.

2.       Kenali diri Anda!

Sebenarnya ini adalah perkara mendasar manusia dimana saja. Di sini, masing-masing harus menjawab pertanyaan, “who am i?” 

Jika Anda adalah seorang yang cepat menghafal atau tekun, mengikuti daurah-daurah tahfidz adalah keputusan yang tepat. Jika Anda adalah orang yang gemar membaca, Anda perlu mencari lingkungan yang mengakomodir kegiatan itu, sekaligus memberikan gambaran tentang buku-buku apa yang diprioritaskan untuk dibaca selama empat tahun ini. Ada banyak sekali buku. Anda tidak bisa menentukan pilihan dengan membacanya satu persatu.

Jika Anda adalah orang yang disiplin, Anda tak terlalu membutuhkan lingkungan, tetapi jika Anda orang moody dan sulit mengatur diri sendiri, Anda perlu mencari komunitas yang menjaga Anda pada ritme aktifitas, atau Anda akan membusuk.

3.       Membuat Program Kegiatan

Setelah mengenal al-Azhar dan diri Anda sendiri. Penting untuk membuat program untuk aktifitas selama empat tahun di Mesir –atau lebih buat yang berkenan-. Jika tidak, silakan bersiap-siap kebingungan memilih aktifitas yang sangat beragam dalam dinamika Masisir. Semuanya akan terlihat menarik, terlihat penting, tapi sejatinya tidak benar-benar demikian. Kalaupun begitu, Anda hanya perlu memilih satu rangkaian kegiatan yang mengantarkan pada tujuan hidup.

Untuk membuat program ini, silakan berdiskusi dengan orang tua dan senior yang paham keadaan Masisir. Karena mereka lebih mengerti keadaan. Jangan terburu-buru! Lebih baik memberikan waktu lebih untuk berpikir daripada bekerja serabutan nanti.

4.       Stand strong on your principles!

Setelah semuanya, poin ini adalah senjata Anda dalam ranah praktik. Karena ada kalanya kegigihan Anda digoncang pelbagai hal yang dapat menyelewengkan Anda dari tujuan awal.

Tulisan ini ditulis agar adik-adik kelas tidak mengalami penyesalan seperti yang dialami penulis.

Selasa, 25 Maret 2014

Sastra Sebagai Pilihan Hidup

Mengapa sastra?

Pertanyaan ini seperti bertanya pada penggemar kopi, “mengapa Anda menyukai larutan hitam nan pahit itu?”

Jawabannya akan beragam. Anda mungkin mendapati jawaban yang sangat serius: jabaran-jabaran runtut, dalam dan intelek yang sedikit banyak menyinggung ideologi, atau malah tawa tipis di akhir guman lirih, “ini soal pilihan, Bung!”

Seperti itu juga yang Anda akan dapatkan jika mengajukan soal di atas kepada saya. Saya dapat membeberkan bertele-tele alasan untuk mendukung kebijakan pribadi ini. Namun, jika pun argumen teoretis runtuh, saya akan berpaling pada alasan paling subyektif, this is the way I choose to live. Sastra, bagi saya, telah menjadi semacam nasi bagi orang Indonesia. Ia memiliki semua syarat yang dibutuhkan untuk menjadi makanan pokok. Meski bagi orang-orang yang gemar makan roti, nasi dianggap tak mengenyangkan untuk tempo yang lama, saya akan tetap memilih nasi.

Menurut saya, sastra dapat menjadi semacam garam: sesuatu yang menyusup dan memberi rasa pada makanan, tanpa perlu menjadi sepah-sepah yang menganggu proses memamah. Sastra mampu merembes masuk ke alam pikiran pembaca lalu mengendapkan ide-ide tanpa tersadar. Perihal semacam ini menjadi vital pada suatu masa ketika jurnalisme dan tulisan ilmiah tumpul. SGA pernah menulis sebuah buku menarik tentang ini, “Ketika Jurnalisme Bungkam, Sastra Harus Bicara.”

Sebenarnya tak ada karya yang tak punya tendensi. Dan dalam sastra, tendensi itu samar karena memakai baju berlapis-lapis –imaji, teknik cerita, metaphor, dll-. Linda Christanty bilang “…sebetulnya setiap karya, ini secara sederhana saja ya, setiap karya mengandung 'pesan politik' penulisnya, apakah itu terlihat gamblang maupun tidak.” Yah, tidak harus politik sih, intinya semua karya mengandung pesan. Melalui  sastra, Pamuk berani mengungkap riwayat pembantaian etnis Armenia dan Kurdi oleh orang-orang Turki.

Lagipula, meski suaranya samar, sastra terbukti sangat sakti. Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata –terlepas dari kontroversi kualitas sastrawinya- harus diakui telah mengubah (pandangan) hidup banyak orang. Bahkan dikisahkan, novel kehidupan anak-anak Belitong itu membuat seorang pecandu narkoba menitikkan airmata, lalu insyaf. Jika julukan most powefull book dianggap berlebihan, setidaknya sepengetahuan saya, buku-buku berjubel petuah paling optimis pun –buku motivasi- tak ada yang mencapai cetakan 15 juta kopi.

Sastra juga sebenarnya merupakan sarana olah sosial. Hanya saja, berbeda dengan tulisan ilmiah yang menilik masalah secara detil dan mendasar, sastra lebih memilih untuk hanyut dalam wujud konkret masalah itu melalui tindak-tanduk manusia. Kemudian, ia mengajukan solusi bukan dengan rekomendasi-rekomendasi, namun lagi-lagi bersuara lewat mulut dan perilaku manusia yang telah melibatkan emosi. Hati-hati diketuk tanpa perlu menjadi jengah diceramahi.

Lebih dari itu, sastra bagi saya pribadi adalah pilihan damai. Ia menggabungkan antara kecenderungan individu untuk terbang di cakrawala imajinasi, inspirasi dari buih-buih wawasan yang menyembul-sembul, kelebat-kelebat ingatan tentang masa lalu, dan tanggungjawab moral sebagai manusia.


Memilih sastra adalah mengenai pilihan menjalani hidup. Bukankah hidup lebih mudah dijalani dengan ihwal yang selalu menyulut tenang?

Senin, 24 Maret 2014

Jangan Jadi Setan!

Golput adalah setan bisu.

Gabriel Almond, pakar politik Amerika Serikat, membagi kalangan yang enggan berpartisipasi dalam acara politik menjadi dua. Pertama, parochial political culture, yaitu mereka yang memiliki budaya politik masa bodoh, acuh tak acuh atau bahkan apatis, karena tidak menyadari atau mengabaikan adanya pemerintahan dan politik. Kedua, subject political culture. Kalangan ini ditandai dengan sikap masyarakat yang masih pasif meski sebenarnya sudah relatif maju.

Pembagian masyarakat enggan politik ini, menurut saya, relevan diterapkan dalam kasus keindonesiaan. Secara umum, mereka yang golput memang tak keluar dari dua kalangan di atas. Masyarakat politik paroki banyak kita temukan pada masyarakat kalangan bawah: mereka yang secara geografis terisolir atau yang secara finansial dan pendidikan tertinggal hingga kurang mendapatkan akses politik. Demikian menyebabkan sikap sosio-politik mereka sangat lugu hingga acuh dan apatis terhadap dinamika ketatanegaraan.

Sementara itu, masyarakat yang dominan di Indonesia adalah kategori kedua, mereka yang relatif telah memiliki pengetahuan politik namun masih bersikap pasif. Dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari lintas kalangan bahwa masyarakat kita sebenarnya cukup melek politik. Banyaknya pengamen melantunkan lagu kritik sosial dan pemerintahan, ramainya bincang politik di warung-warung kopi, hingga antusiasme debat ilmiah dalam lingkungan akademis, dan lain-lain, menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sudah memiliki kesadaran politik.

Kendati mayoritas rakyat sudah sadar politik, angka golput masih tinggi. Mengapa demikian? Dari opini yang beredar di masyarakat saya menyimpulkan ada dua alasan utama untuk golput.

Pertama, lantaran tidak percaya lagi dengan sistem ketatanegaraan yang ada saat ini, yaitu demokrasi. Demokrasi dianggap telah gagal dan tak mungkin lagi mewujudkan tujuan dari kehidupan sosial-politik Indonesia seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945: “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…”

Kalangan ini terdiri dari mereka yang secara ideologi bertentangan dengan ide demokrasi, baik dari fundamentalis religius maupun kaum kiri radikal. Mengenai hal ini, saya mengutip pendapat Gunawan Muhammad: ”tak ada satu pun sistem di dunia ini yang sempurna. Tapi, keunggulan demokrasi adalah, memberi peluang secara terus-menerus untuk penyempurnaan. Hanya dengan demokrasi kita bisa mengoreksi, dan memperbaiki.”

Kedua, karena putus asa dengan kondisi politik saat ini. Maraknya kasus korupsi, tidak efektifnya pemerintah, perilaku buruk elit politik, tidak adanya calon pemimpin yang sesuai kriteria, dan seabrek alasan lain membuat rakyat berpaling pada golput.

Menurut saya, kekecewaan semacam ini wajar. Tetapi yang perlu jadi catatan adalah, apakah golput akan menyelesaikan masalah? Secara tidak langsung, tidak menggunakan hak pilih adalah memberikan legitimasi bagi pemenang pemilu yang belum tentu menyuarakan aspirasi kita. Lebih jauh, golput dapat menimbulkan gonjang-ganjing politik hingga mengancam persatuan nasional.

Perlu diperhatikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang masih muda dalam pencarian sistem pemerintahan ideal. Sepatutnya kita menyadari bahwa dalam proses pencarian itu akan ada trial and error. Amerika Serikat saja pernah mengalami perang saudara sebelum menjadi negara super power. Yang dibutuhkan Indonesia sekarang adalah solusi berwujud peran aktif, bukan sikap apatis.

Kita harus optimis masalah demi masalah dapat diselesaikan dengan sikap politik yang aktif, cerdas dan tepat. Bukankah korupsi, efektifitas pemerintah, perilaku elit, dapat ditanggulangi dengan memilih wakil dengan integritas baik. Pula, bila masalahnya adalah ketidaktersediaan calon yang dibutuhkan masyarakat, mengapa tidak memantaskan diri menjadi wakil rakyat?

Tidak menggunakan hak suara, seperti menggunakannya, adalah opsi. Tetapi setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan golput dapat membawa akibat yang amat buruk. Dalam khazanah keislaman, para salaf menggunakan istilah “setan bisu” untuk mereka yang diam dari kebenaran. Bagi saya, golput termasuk golongan itu. Bukankah dalam demokrasi, setiap individu dijamin kebebasan menyuarakan kebenaran? Bahkan kebenaran versi apa saja.



Minggu, 23 Februari 2014

Penulis Payah yang Malas Membaca

Tadi sore, seorang kawan menyapa, bertanya sekaligus menghentak saya, “mana tulisanmu? Biasanya tiap hari.” Tentunya dia tak membentak, ini cuma percakapan chatting yang tak ada intonasi suara. Tapi pertanyaan macam itu, bagi saya yang dulu sangat keranjingan menulis, selalu menjadi semacam teror.

Ubun-ubun saya seketika panas tetapi saya sudah terbiasa mencari dalih. “Saya sedang belajar menulis cerpen.”

Pernyataan saya benar. Saya memang tengah menggeluti tata cara menulis cerpen, tapi itu juga sungguh-sungguh sebuah dalih (baca: alasan (yg dicari-cari) untuk membenarkan suatu perbuatan, kbbi).

Alih-alih berjibaku latihan menulis cerpen, saya malah terlalu terbelenggu dengan masa lalu. Senyum-senyum sendiri menikmati satu dua cerpen yang lumayan berhasil, dan merana dengan kegagalan saya merangkai banyak cerpen. Padahal penulis –juga kreator-kreator lainnya-, kata AS. Laksana, haruslah terbebas dari bayang-bayang karya terdahulu.

Barangkali saya adalah penulis yang masih hidup dalam cakrawala pembaca. Tugas pembaca memang mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai –seperti anak muda yang baru-baru jatuh cinta, hihi-. Tetapi urusan penulis adalah move on, menghapus ingatan dari apa-apa yang sudah mereka bikin. Nasehat terakhir juga saya dapat dari Sulak.

Saya juga gagal mengejewantahkan nasehat guru menulis saya, “banyak-banyaklah membaca, karena hanya penulis amatir yang menghasilkan tulisan lebih banyak dari pembaca.” Masalahnya, bukannya antusias baca, saya malah lebih banyak meratap, “kapan ya saya bisa banyak baca?” dan membiarkan waktu saya tersita untuk renungan tak bermanfaat ini.

Menulis sebenarnya tentang kedisiplinan. Jika pemain bola saja setiap harinya memiliki jadwal rutin berlatih, mengapa penulis yang kerjaannya tidak main-main tidak punya waktu khusus menulis?


Ok, saya perlu mengakhiri keluh kesah ini namun yang lebih penting adalah bagaimana mengakhiri kebiasaan buruk. Saya tak mau menjadi kuburan untuk mimpi-mimpi saya sendiri. Saya tak mau di usia ketika orang-orang telah matang sebagai penulis, kenalan-kenalan facebook masih saja memuji saya sebagai “orang yang berbakat menulis.” Jika itu terjadi, artinya saya telah gagal menyelaraskan diri saya dengan potensi. Masalahnya bukan malu atau tidak, ini tentang laporan pertanggungjawaban perihal apa saja yang saya kerjakan di dunia.