RSS
Semua orang hidup dalam tempurung, dan semua menganggap itulah alam semesta.

Minggu, 08 Desember 2013

Malam Ketika Musim Dingin Terasa Hangat

Musim dingin begini, aku teringat satu malam hangat. Aku tidak sedang berkisah tentang malam hari musim panas, ini dongeng tentang suatu malam musim dingin yang terasa hangat. Barangkali malam itu, di bawah bebatuan rapi yang melandasi jalan kami –aku dan satu orang lagi akan kuceritakan nanti-, tersulut semacam tungku batu bara.

Tetapi sebelum mendedah tentang perjalanan mesra kami malam itu, sebaiknya aku terangkan dulu perihal bagaimana kami bertemu.
***
Satu sore, dalam dongeng yang mirip sekali dengan kehidupan alam nyata, aku tengah belajar mempersiapkan ujian. Karena tak suka keramaian khalayak di masjid al-Azhar, masjid Husein dan tempat-tempat belajar lain di sekitar rumah, aku memilih belajar di masjid al-Hakim bi Amrillah. Tempatnya tepat di belakang Bab al-Futuh, seberang Bab al-Sya’riyah. Jika Anda adalah orang baru di Kairo, naik saja taksi menuju Bab Sya’riyah, lalu tanyakan pada siapa saja di mana masjid itu berada!

Seperti biasa, aku belajar dengan mulut komat-kamit karena hanya dengan begitu pelajaran bisa lekat di ingatanku, juga sambil mondar-mandir keliling masjid karena aku gampang mengantuk kalau belajar sambil duduk. Tiba-tiba, ketika melintas sebuah tiang, nampak sesosok berkerudung putih merengues membaca buku cerita. Aku lalu hilir mudik sekitar tiang itu, penasaran.

“Kenapa masa ujian begini kau membaca buku cerita?” Tanyaku canggung. Aku terpaksa bertanya karena risih dilirik seperti maling. Aku tahu dia memandangiku begitu karena risih dengan polahku yang lalu lalang saja di hadapannya.

“Huh, aku sedang istirahat. Hari ini, buku setebal 200 halaman ini baru kuselesaikan,” jawabnya sambil menunjuk buku diktat warna biru yang tergeletak. “Memangnya, apakah membaca buku cerita di waktu ujian adalah hal terlarang?” Ia mengernyit, di antara alisnya kini terbentuk kerut-kerut.

“Sejatinya tidak. Hanya saja, di sini, di komunitas yang jarang baca cerita, kau terlihat aneh,” aku ikut mengerutkan alis, tapi cuma dalam rangka menirukan pola wajahnya yang tiba-tiba jadi lucu.

“Tapi aku suka orang yang suka cerita pendek. Ia mungkin tak pandai menghafal, tapi ia pasti teliti, sabar, berwawasan luas, dan yang paling penting, tidak kaku, meski kadang-kadang pakaiannya sedikit acak-acakan,” sambungku mencoba menghangatkan suasana.

“Enak saja, huh, busanaku selalu rapi!”

“Haha, jangan tersinggung, aku tengah membicarakan diri sendiri,” kuambil posisi duduk di sampingnya. Lalu kami ngobrol panjang lebar. Namanya Rima Tharful Syi’ri, dia adalah gadis paling cerdas yang pernah kutemui sejauh ini. Barangkali karena dia banyak membaca cerita pendek.

Percakapan kami kemudian berlanjut hingga perjalanan pulang. Di sinilah keanehan terjadi, sepanjang jalan al-Moez, entah kenapa aku tidak kedinginan. Cuaca tiba-tiba menghangat. Barangkali memang ada tungku batu bara di bawah batu-batu yang tersusun rapi.

Namun, eh, mengapa orang-orang tetap kedinginan. Pak tua penjual jagung di bawah pohon itu mengambangkan tangandi atas bara di sela-sela melayani pelanggan, penjual makanan kecil juga sesekali membetulkan jaket, pasangan muda-mudi juga terlihat lebih intim, aku yakin karena mereka kedinginan. Tungku batu bara itu memang hanya imajinasiku saja.

Aku baru sadar bahwa kehangatan itu karena aura. Jika Einstein, dari cerita yang kudengar, bilang bahwa dingin adalah ketiadaan panas, maka malam itu terasa hangat karena aku menjalaninya dengan penuh energi. Aku tak tahu sumbernya dari mana. Tetapi dia malam itu tak ubahnya api unggun. Terang, merona dan membara. Kita lalu bertengkar tentang musim favorit.

“Aku tak suka musim dingin,” kataku memancing perdebatan, “kita harus mengenakan terlalu banyak aksesoris. Sebagai lelaki, itu adalah pekerjaan menyebalkan,” mulutku tersungut.

“Ah, apa sulitnya pakai jaket. Bagiku musim panas lebih mengerikan, keringat seperti diserap,” ia antusias menimpali, “aku bahkan sulit tidur di panas karena lalat mengerubung,” pungkasnya.

Kami masyuk dalam obrolan, sesekali kulontarkan canda. Ia tertawa, gingsul di ujung luar gerahamnya bak memimpin larik-larik cahaya menari. Tawanya juga menggali dua buah relung di pipi. Itu menjadi semacam telaga yang membawa kesegaran.

“Aku suka bertemu denganmu, tapi sebaiknya kau tahu ini: ini tahun terakhirku di sini dan tahun depan aku menikah dengan seorang pegawai,” kata Rima tiba-tiba saat kami mulai masuk kawasan Khan Khalili. Sejenak kemudian kami saling membisu. Penjual gantungan kunci menarik-narik lenganku.

“Begitukah? Aku senang jika kau segera menikah,” kataku membunuh hening. “Tapi..” Ku pandang matanya, kucoba baca isi hatinya melalui layar bola mungil itu.

“Tapi apa?” ia mengalihkan pandang ke menara Husein, sepertinya sadar aku mencoba menerkanya.

“Jangan menikah dengan pegawai! Hidupmu kan terjebak upacara dan kejumudan. Menikahlah dengan penulis! Meski mereka belum tentu dapat memberikan penghidupan yang baik, setidaknya mereka tahu bagaimana memperlakukan hatimu dengan baik,” lanjutku. Sebenarnya itu semacam bahasa diplomasi.

“Baik, akan kusimpan nasehatmu baik-baik,” ia menimpali dengan senyum. Gingsulnya kembali mengajak kerlap-kerlip berdansa, relung pipinya lagi-lagi membentuk rawa teduh. Itulah tarian dan kesegaran terakhir yang kuingat dari wajahnya.
***
Kami tak pernah bertemu kemudian. Dari teman-temannya, aku tahu Rima lulus tahun itu –aku harus mengulang beberapa pelajaran-. Informasi lain yang kudapat adalah bahwa ia benar-benar telah menikah dengan seorang pegawai. Ihwal terakhir ini sangat kusesalkan.

Beberapa menit yang lalu, aku mendapatkan kejutan tak mengenakkan. Rima mengirimi aku sebuah foto keluarga. Nampak di foto itu ia bersama lelaki rupawan tengah menggendong bayi berkulit putih dan sangat montok. Dia sertakan juga beberapa kalimat: Terimakasih atas nasehatmu Hazin! kau benar, penulis selalu tahu cara bagaimana memperlakukan hati kita dengan baik. Perkenalkan, itu suamiku, Faiz. Ia penulis sekaligus editor di sebuah koran nasional. Kau dapat menghubunginya jika ingin mengirimkan karya-karyamu. Aku masih ingat ceritamu dulu kalau kau ingin punya kenalan editor. Semoga dia bisa membantu.

Malam ini, karena foto dan beberapa kalimat itu, atau karena darah yang tiba-tiba banyak mengalir ke ubun-ubun, musim dingin terasa hangat.



Selasa, 12 November 2013

Bapak dan Keniscayaan Menjadi Bapak

Hari ini hari Ayah, karena itu dan perihal lain, saya merasa memiliki kewajiban moral untuk menulis tentang Bapak.

Saya tak pernah punya relasi yang terlalu hangat dengan Bapak. Sejak kecil, saya lebih nyaman dekat dengan Ibu. Waktu kanak-kanak, saya terbiasa terbirit-birit lari ke arah ibu saat rona muka Bapak mulai terlihat naik pitam. Bersembunyi di belakang Ibu sambil memeluk kakinya adalah pertahanan terbaik kala itu. Selanjutnya, ibu pasti membela saya dan saya pasti akan selamat.

Saya juga lebih suka berpergian ke sekolah tempat Ibu mengajar daripada ikut Bapak menyusuri kebun. Saya baru mau bersama Bapak bila diajak naik motor ke kota. Kendati demikian, di perjalanan, saya lebih suka menatap semak di sisi-sisi jalan sembari berkhayal daripada ngobrol dengan Bapak. Saat beranjak remaja hingga dewasa, meski tidak lagi lari terbirit-birit, saya masih menggunakan Ibu sebagai tameng. “Sudah boleh sama Ibu ko, Pak,” sering sekali saya ngeles begitu.

Jika kalian ingin tahu bagaimana Bapak, mungkin karakter Ayah dalam film Laskar Pelangi sedikit memberikan gambaran. Tentu saja tak sama persis. Bapak juga pendiam, tak banyak bicara. Tapi hubungan saya dan Bapak tak semesra Ikal dan Ayahnya.

Bapak orangnya lugas dan spontan. Tidak seperti saya, Bapak tidak suka puisi atau membaca cerita –saya tak pernah melihatnya membaca buku cerita-, barangkali karena itu ia tak suka basa-basi. Bapak menyatakan ketidaksetujuan dengan tegas, bahkan terkesan keras. Belakangan ini saya menyadari bahwa karakter saya yang terkadang meledak-ledak persis dengan tabiat Bapak.

Demikianlah hubungan saya dan Bapak. Tapi saya tak hendak menyalahkan Bapak atas baik-buruk dinamika keluarga kami. Saya mengerti, sikap dan cara asuh yang ia terapkan adalah hasil dari pengalaman pribadi Bapak dengan orang tua serta usahanya memberikan sintesa atas pengalaman tersebut. Faktanya, manusia kerap menerapkan tolak ukur pribadi untuk orang lain.

Bagaimanapun, dialektika sikap bapak dan anak jugalah yang membentuk saya hingga menjadi seperti saat ini. Tanpa Bapak, saya tak mungkin mendapatkan akses wawasan-wawasan kontemporer. Bapak mungkin hanya membawakan saya oleh-oleh majalah Bobo dan Bola setiap pulang dari Kota. Tapi dari dua majalah tersebut, saya dapat mengaktualisasikan pengetahuan-pengetahuan lama yang saya dapat dari perpustakaan sekolah Ibu.

Lebih dari itu, sikap mengalah Bapak dalam menentukan keputusan-keputusan penting dalam hidup saya –Bapak selalu mengiyakan lobi Ibu dalam kasus-kasus saya, seperti kuliah di mana, dll- juga fundamental. Tanpa semua itu, barangkali jalan hidup saya bukanlah apa yang saya tapak hari ini. Bapak memang keras, tapi beliau juga orang yang paling membebaskan anak-anaknya menentukan jalan hidup sendiri.

Belakangan, saya menyadari, diantara sikap Bapak, banyak sekali yang merupakan keniscayaan menjadi seorang Ayah. Di antaranya adalah bahwa sebagai tulang punggung keluarga, yang waktunya banyak tersita di luar rumah, sulit bagi seorang Ayah untuk menjadi sosok yang paling dekat dengan anak-anak. Seorang Ayah harus mengorbankan keinginan bercengkrama lebih dengan buah hati demi memberi mereka kebutuhan-kebutuhan hidup. Saya juga baru menyadari, bahwa sikap Bapak yang tak mau diganggu setelah pulang kerja adalah sangat manusiawi. Saya belum pernah bekerja secara profesional, tapi terkadang saya juga sangat temperamental bila kerjaan kampus, organisasi, dll numpuk. Selama ini, saya terlalu mengharapkan Bapak untuk selamanya menjadi Bapak. Padahal dalam beberapa kesempatan, saya perlu memposisikan Bapak sebagai manusia.

Mengingat itu semua terkadang menumbuhkan keraguan saya tentang keniscayaan menjadi Bapak. Karena itu, sebelum melangkah terlalu jauh, saya berniat memperbaiki kualitas hubungan dengan Bapak. Barangkali sikap Bapak tak berubah, tapi masalahnya bukan itu, sayalah yang perlu mengubah pendekatan saya terhadap Bapak. Karena cepat atau lambat, saya akan menjadi Bapak. Dan kelak, saya harus menjadi bapak nomor satu di dunia.

Maafkan saya, pak!


Rabu, 06 November 2013

Ongkos yang Bikin Merongos

Seri Perjalanan di Tanah Suci

Sebenarnya saya ingin menulis banyak hal tentang pengalaman ziarah ke tanah suci kemarin. Ada pelbagai cerita yang menarik diceritakan, setidaknya menurut saya yang baru pertama kali berkunjung ke sana. Namun, karena handphone saya tidak memiliki fasilitas internet (kata teman-teman ini adalah senter berhadiah hp), walhasil saya hanya menulis catatan-catatan kecil saja dalam buku tulis yang saya bawa. Oh iya, di tanah suci, sangat jarang terdapat warnet. Kalau pun ada, harga sewanya lumayan mahal (5 riyal/jam, setara dengan 10 le Mesir). Barangkali penyebabnya juga karena prosesi ibadah haji sendiri yang cukup melelahkan.

Salah satu perihal yang paling mengagetkan saya adalah masalah bea hidup. Sebagai peziarah dengan kantong pas-pasan, standar kehidupan dan perputaran uang di Saudi (terutama Mekah) adalah masalah buat saya. Bagaimana tidak terkejut, uang 100 dolar yang sengaja saya persiapkan untuk segala keperluan selama di Saudi, habis hanya dalam waktu seminggu. Sejak itu, saya lantas berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang.

Aspek yang paling menyedot dana adalah transportasi. Di Saudi transportasi sangat mudah, Anda tidak perlu menunggu mobil khusus angkutan untuk berpergian ke mana-mana. Di sana, setiap mobil yang lewat adalah taksi. Anda dapat menghentikannya kapan saja. Masalahnya adalah ongkos yang dibebankan terlalu mencekik leher. Untuk perjalanan jarak pendek saja, Anda harus membayar minimal 10 riyal (20 Le Mesir, 30 ribu rupiah). Rata-rata perjalanan kami (saya dan teman-teman) ditempuh dengan biaya 30 riyal sekali jalan.

Tak ada patokan harga pasti karena mobil-mobil tersebut tidak menggunakan argometer. Mereka mengajukan harga, calon penumpang menawar. Bila tercapai kata sepakat, penumpang dapat menaiki kendaraan. Jika tidak, pemilik mobil langsung ngacir tanpa peduli.

Karena tak ada patokan, pemilik mobil jadi seenaknya saja memberi tarif. Ongkos jadi sangat fluktuatif sesuai situasi dan kondisi. Dalam keadaan-keadaan penting (misalnya menjelang dan seusai shalat, malam menjelang mabit, selepas melontar jumrah), saat Jemaah banyak membutuhkan angkutan, ongkos transportasi jadi gila-gilaan. Saya pernah memilih jalan dua jam dari Mina ke penginapan kami di kawasan Utaibiyah karena saat itu rata-rata mobil angkutan meminta tarif 100 riyal menuju Masjidil Haram. Mungkin saya perlu ingatkan, 100 riyal itu setara dengan 200 Le atau 300 ribu rupiah.

Karena harga yang gila-gilaan, setelah beberapa hari tinggal di sana dan mengenal wilayah, saya –dan sebagian besar teman-teman- memilih untuk ke mana-mana on feet. Lumayan hemat untuk para peziarah miskin seperti saya.

Sebenarnya, menurut keterangan kawan yang berdomisili di Saudi, ongkos transportasi di sana pada hari-hari biasa tidak semahal saat haji. Biasanya taksi hanya mematok harga kurang lebih 10 riyal untuk jarak sedang. Untuk jarak dekat bahkan bisa diperoleh dengan hanya 2 riyal. Meskipun tarif tersebut masih mahal jika dibandingkan dengan ongkos angkutan di Kairo.


Oh, iya, saya tidak dalam rangka mengutuki bea transport Saudi yang selangit. Sekedar mengabarkan saja kepada teman-teman yang saya doakan akan sesegera mungkin mengunjungi tanah suci. Intinya, persiapkan segalanya. Jika Anda adalah orang yang sedikit bermasalah dengan bea-bea tersebut, banyak-banyaklah berolahraga menjelang keberangkatan. Saya sarankan untuk jalan kaki satu atau dua jam per hari setiap pagi. Tapi jika Anda bersiap dengan tuntutan finansial sebesar itu, ya silakan saja. Toh, semua yang kita infakkan dalam haji akan diganti berlipat ganda oleh Allah SWT nanti.